Teori budaya organisasi merupakan sebuah teori komunikasi yang mencakup semua simbol
komunikasi (tindakan,
rutinitas,
dan percakapan) dan makna
yang dilekatkan orang terhadap simbol tersebut. Dalam
konteks perusahaan, budaya organisasi diangaap sebagai alah satu strategi dari
perusahaan dalam meraih tujuan serta kekuasaan.
Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai
organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana
orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana,
terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan),
sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan
efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para
ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
1.
Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola
hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan
mengejar tujuan bersama.
2.
James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3.
Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah
merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau
lebih.
4.
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah
kesatuan (entity) sosial yang
dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat
diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk
mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Sebuah organisasi dapat terbentuk
karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan
perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat.
Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya
oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan
sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga
menekan angka pengangguran.
Orang-orang
yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus
menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan
tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam
keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang
dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.
Teori budaya organisasi memiliki beberapa asumsi dasar:
- Anggota-anggota
organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan
yang dimiliki bersama mengenai realitas organisasi, yang berakibat pada pemahaman yang lebih
baik mengenai nilai-nilai sebuah organisasi. Inti dari asumsi ini adalah
nilai yang dimiliki organisasi. Nilai merupakan standard dan
prinsip-prinsip yang terdapat dalam sebuah budaya.
- Penggunaan
dan interpretasi simbol sangat penting dalam budaya
organisasi. Ketika seseorang dapat memahami simbol tersebut, maka
seseorang akan mampu bertindak menurut budaya organisasinya.
- Budaya
bervariasi dalam organisasi-organisasi yang berbeda, dan interpretasi
tindakan dalam budaya ini juga beragam. Setiap organisasi memiliki budaya
yang berbeda-beda dan setiap individu dalam organisasi tersebut
menafsirkan budaya tersebut secara berbeda. Terkadang, perbedaan budaya
dalam organisasi justru menjadi kekuatan dari
organisasi sejenis lainnya.
Unsur-unsur
Menuruth Keith
Davis ada tiga unsur penting partisipasi.- Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan
sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata
atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
- Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu
sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat
rasa senang,
kesukarelaan untuk membantu kelompok.
- Unsur ketiga adalah unsur tanggung
jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa
menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of
belongingness”.
Beberapa ciri-ciri yang umumnya terdapat dalam suatu
organisasi sebagai berikut :
1. Waktu. Untuk
dapat berpatisipasi diperlukan waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah
untuk memahamai pesan yang disampaikan oleh pemimpin.
Pesan tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa
diperlukan peran serta.
- Bilamana
dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang, hendaknya
dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan
menimbulkan efek negatif.
- Subyek
partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasi dimana
individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatau yang menjadi perhatiannnya.
- Partisipasi
harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam arti kata yang
bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan pengalaman yang sama
dengan komunikator, dan kalupun belum ada, maka unsur-unsur itu
ditumbuhkan oleh komunikator.
- Partisipasi
harus memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik, misalnya
menggunakan bahasa yang sama atau yang sama-sama dipahami, sehingga
tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau berhasil.
- Para pihak
yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran serta tersebut sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan.
- Bila
partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan
pada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak dilakukan pemaksaan atau
penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran
atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan pada prisnsip
bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif.
Partisipasi dalam organisasi menekankan
pada pembagian wewenang atau tugas-tugas
dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud meningkatkan efektif tugas yang
diberikan secara terstruktur dan lebih jelas.
Performa
komunikatif
Merupakan salah satu konsep penting
yang dibahas dalam teori budaya organisasi. Performa adalah metafora yang menggambarkan
proses simbolik pemahaman akan perilaku manusia dalam sebuah organisasi.
Performa komunikatif dibedakan menjadi performa ritual, performa hasrat,
performa sosial, performa politis, dan performa enkulturasi..
Performa ritual merupakan semua performa komunikasi yang terjadi secara teratur
dan berulang. Ritual terdairi atas empat jenis, yakni personal, tugas, sosial,
dan organisasi. Ritual personal merupakan rutinitas yang dilakukan
di tempat kerja setiap hari. Ritual tugas merupakan rutinitas
yang dilakukan dengan pekerjaan tertentu di tempat kerja. Ritual sosial
merupakan rutinitas yang melibatkan hubungan dengan orang lain di tempat kerja, Ritual organisasi
merupakan rutinitas yang berkaitan dengan organisasi secara keseluruhan..
Sedangkan, performa hasrat merupakan kisah-kisah mengenai
organisasi yang seringkali diceritakan secara antusias oleh para anggota organisasi dengan
orang lain. Performa sosial
merupakan perpanjangan sikap santun dan
kesopanan untuk mendorong kerja sama di antara anggota organisasi. Performa
politis merupakan perilaku organisasi yang mendemonstrasikan kekuasaan atau
kontrol.
Dan, performa enkulturasi mencakup perilaku
organisasi yang membantu para karyawan dalam menemukan makna dari menjadi anggota suatu organisasi.
Keunggulan
Teori
Keunggulan teori ini adalah kegunaannya yang jelas, yakni
lebih mendasarkan pada proses komunikasi daripada peran komunikator
itu sendiri. Ini memudahkan peneliti untuk memahami bagaimana proses pertukaran informasi
yang terjadi dalam organisasi dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Selain itu, teori ini
memiliki ruang lingkup yang luas dan telah
dijadikan dasar dalam diskusi berbagai bidang ilmu.
Kritik
terhadap Teori
Teori informasi organisasi gagal melakukan pengujian konsistensi logis. Salah satu
kritik yang muncul adalah keyakinan bahwa orang cenderung diarahkan oleh aturan dan kondisi
dalam sebuah organisasi.
Di dalam
keadaan yang tidak stabil, individu belum tentu menyampaikan
informasi yang sama.
Pendapat Penulis tentang postingan diatas adalah Organisasi memiliki Teorinya masing masing, karena Organisasi terdapat beberapa macam, memiliki ciri ciri umum dan khusus. Unsur dalam Organisasi mutlak ada karena yang membangun pondasi suatu Organisasi berjalan adalah adanya 3 pilar yaitu memiliki Teori kuat, Unsur yang jelas dan ciri ciri yang bersifat keorganisasian harus ada, kalo tidak itu belum bisa dikatakan suatu Organisasi.
Referensi
1. West, Richard
dan Turner, Lynn H. 2008. Pengantar
Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: PT. Salemba Humanika.
Hal 339-349.
3. West, Richard
dan Turner, Lynn H. 2008. Pengantar
Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: PT. Salemba Humanika.
Bab 7.
4. Pengaruh Budaya Organisasi dan
Pemberdayaan Karyawan Terhadap Komitmen Organisasi Melalui Kepuasan Kerja. Diakses 29
Mei 2010.
5. Sutrisno, Mudji
dan Putranto, Hendar. Teori-Teori
Kebudayaan. Jakarta: Kanisius. Hal 148. ISBN 9792112014,
9789792112016.
6. Moeljono,
Djokosantoso. Cultured ! Budaya
Organisasi. Jakarta: PT.Elex Media Komputindo. Hal 21-22. ISBN 9792072969,
9789792072969.
7. Pearce,
Robinson. Strategic Management.
Jakarta: Penerbit Salemba. Hal 490-491. ISBN 9796914638,
9789796914630.
9. Www.Wikipedia.com
No comments:
Post a Comment