Setiap
negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan membuat
laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas
dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG
pertamanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa kepemilikan pemerintah Indonesia
atas laporan tersebut. Tujuan Tujuan Pembangunan Milenium ini menjabarkan upaya
awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang
terkait dengan pencapaian tujuan MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan
seiring dengan upaya menjadikan pencapaian-pencapaian ini menjadi kenyataan,
sekaligus mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan
program-program pemerintah yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan-tujuan ini.
Dengan tujuan utama mengurangi jumlah orang dengan pendapatan dibawah upah
minimum regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan ini menunjukkan bahwa
Indonesia berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun,
pencapaiannya lintas provinsi tidak seimbang. Kini MDGs telah menjadi referensi penting
pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum
pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Walaupun
mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai
tujuan-tujuan ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh
pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs
di Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan
implementasinya di masa depan. Hal ini termasuk kampanye untuk perjanjian tukar
guling hutang untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai
MDGs di daerah Asia dan Pasifik.
Tujuan MDGs Indonesia 2025
Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada
September 2000 menyetujui agar semua negara:
Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
- Pendapatan
populasi dunia sehari $10000.
- Menurunkan
angka kemiskinan.
Mencapai pendidikan dasar untuk semua
- Setiap
penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar.
Mendorong kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan
- Target
2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi
gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun
2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015.
Menurunkan angka kematian anak
- Target
untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia
di bawah 5 tahun.
Meningkatkan kesehatan ibu
- Target
untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses
melahirkan.
Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan
penyakit menular lainnya
- Target
untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan
penyakit berat lainnya.
Memastikan kelestarian lingkungan hidup
- Mengintegrasikan
prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap
negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan.
- Pada tahun
2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak
memiliki akses air minum yang sehat.
- Pada tahun
2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan
dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah
kumuh.
Mengembangkan kemitraan global untuk
pembangunan
- Mengembangkan
lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan
aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen
terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat
kemiskinan secara nasional dan internasional.
- Membantu
kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan
khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini
termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan
pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan
hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk
negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan.
- Secara komprehensif
mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang.
- Menghadapi
secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui
pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat
ditanggung dalam jangka panjang.
- Mengembangkan
usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda.
- Dalam
kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat
penting yang terjangkau dalam negara berkembang
- Dalam
kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari
teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.
Kontroversi
tentang 2015
Upaya
Pemerintah Indonesia merealisasikan Tujuan Pembangunan Milenium pada tahun 2015
akan sulit karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban
pembayaran utang yang sangat besar. Program-program MDGs seperti
pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan
gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Merujuk
data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus
2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun
2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54
triliun (2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaian MDGs. Jumlah
pembayaran utang Indonesia, baru menurun drastis (2016) menjadi Rp66,70
triliun. tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang Luar Negeri,
Indonesia akan gagal mencapai tujuan MDGs.
Menurut
Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID)
Don K Marut Pemerintah Indonesia perlu menggalang solidaritas negara-negara
Selatan untuk mendesak negara-negara Utara meningkatkan bantuan pembangunan
bukan utang, tanpa syarat dan berkualitas minimal 0,7 persen dan menolak ODA
(official development assistance) yang tidak bermanfaat untuk Indonesia [5]. Menanggapi pendapat tentang kemungkinan
Indonesia gagal mencapai tujuan MDGs apabila beban mengatasi kemiskinan
dan mencapai tujuan pencapaian MDG pada tahun 2015 serta beban pembayaran utang
diambil dari APBN pada tahun 2009-2015, Sekretaris Utama Menneg PPN/Kepala
Bappenas Syahrial Loetan berpendapat apabila bisa dibuktikan MDGs tidak
tercapai di 2015, sebagian utang bisa dikonversi untuk bantu itu. Pada tahun
2010 hingga 2012 pemerintah dapat mengajukan renegosiasi utang. Beberapa negara
maju telah berjanji dalam konsesus pembiayaan (monetary consensus) untuk
memberikan bantuan. Hasil kesepakatan yang didapat adalah untuk negara maju
menyisihkan sekitar 0,7 persen dari GDP mereka untuk membantu negara miskin
atau negara yang pencapaiannya masih di bawah. Namun konsensus ini belum
dipenuhi banyak negara, hanya sekitar 5-6 negara yang memenuhi sebagian besar
ada di Skandinavia atau Belanda yang sudah sampai 0,7 persen.
Pencapaian MDGs sampai pada tahun 2014
Saat ini
pencapaian Indonesia dalam mencapai target MDGs sebenarnya sudah dimulai pada
tahun 1990 dan perjuangannya sampai dengan saat ini. Saat ini Indonesia sudah dikategorikan sebagai negara
berpenghasilan menengah. Indikatornya adalah karena penghasilan masyarakat
Indonesia berdasarkan Gross national Index (GNI), yang dihitung dari nilai
pasar total dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh suaru negara dalam
periode tertentu, penghasilan perkapita Indonesia tahun 2007 adalah US$ 1.650.
Nilai ini setara dengan negara lainnya, maka Indonesia masuk urutan ke -142
dari 209 negara (UNDP, 2008).
Ada
delapan tujuan MDGs yang harus dilaksanakan oleh setiap negara yang
mendeklarasikannya.
1.
Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan.
2.
Mencapai pendidikan dasar untuk semua.
3.
Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan.
4.
Menurunkan angka kematian anak.
5.
Meningkatkan kesehatan ibu.
6.
Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya.
7.
Memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan
8.
Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
Indonesia
telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, indikator nya US$ 1,00 per kapita
perhari menjadi setengahnya. Kemajuan ini telah dicapai untuk menurunkan
tingkat kemiskinan, garis kemiskinan nasional sebesar 13,33 persen ( 2010 )
menuju target 8-10 persen pada tahun 2014. Pravalensi kekurangan gizi pada
balita menurun dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun
2007, diperkirakan indonesia mencapai target MDGs 15,5 persen pada tahun 2015.
Indonesia
dalam mencapai target MDGs mengenai pendidikan dasar dan melek huruf sudah
menuju pencapaian target 2015. Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi
target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran
pendidikan dasar universal. Pada tahun 2008/2009, angka partisipasi kasar ( APK
) SD/MI termasuk paket A mencapai 116,77 persen dan angka partisipasi murni (
APM ) sekitar 95,23 persen. Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
pemerintah telah mendorong meningkatkan kesetaraan gender di semua jenjang dan
jenis pendidikan. Rasio angka partisipasi murni ( APM ) perempuan terhadap laki
laki di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturut turut sebesar 99,73
dan 101,99 pada tahun 2009, dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki laki
pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun mencapai 98,85 persen.
Menurunkan
angka kematian anak telah menunjukkan angka yang signifikan sekali dari 68 pada
tahun 1991 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007, sehingga target
sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan tercapai. Di
indonesia, angka kematian ibu melahirkan ( MMR/maternal mortality rate )
menurun dari 390 tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Upaya menurunkan angka kematian ibu didukung dengan meningkatkan angka
pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmeet need yang dilakukan melalui
peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.
Tingkat
prevalensi HIV/AIDS cenderung meningkat di indonesia terutama pada kelompok
resiko tinggi pengguna narkoba suntik dan pekerja seks. Jumlah kasus HIV/AIDS
yang dilaporkan di indonesia meningkat dua kali lipat antara tahun 2004 dan
2005. Angka kejadian malaria per 1000 penduduk menurun dari 4,68 tahun 1990
jadi 1,85 tahun 2009.
Tingakt
emisi gas rumah kaca di indonesia cukup tinggi walaupun upaya peningkatan luas
hutan, pemberantasan pembalakn hutan, dan komitmen untuk melaksanakan kebijakan
penurunan emisi karbon dioksida dalam 20 tahun kedepan telah dilakukan.
Proporsi rumah tangga denagn akses air minum layak meningkat dari 37,73 persen tahun
1993 jadi 47,71 persen tahun 2009. Proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi
layak meningkat dari 24,81 persen tahun 1993 jadi 51,19 persen tahun 2009.
Sumber:
UNDP
( Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2014/02/04/pencapaian-mdgs-2015-di-indonesia-629534.htm l)
Pendapat
penulis tentang MDGs 2025 Indonesia
Penulis telah membaca dengan
menyeluruh tentang MDGs 2025 Indonesia yang dalam intinya Indonesia sedang
membangun kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang dan sifatnya menyeluruh.
Penulis sangat mendukung pemerintah dalam hal ini karena meningkatkan kecerdasan
bangsa, mengurangi beban rakyat juga meningkatkan pendapatan rakyat. Dalam hal
pendidikan diharapkan Indonesia bias bersaing dengan negara lain yang lebih
maju, dalam produksi, mutu, SDA serta hal hal lain yang lebih kompleks.
No comments:
Post a Comment