A.
Peran dan Fungsi
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
mempunyai peranan yang sangat penting, tercantum dalam sumpah pemuda yaitu,
“Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
Ini menunjukan bahwa bahasa Indonesia sangat penting peranannya serta
kedudukannya sebagai bahasa nasional. Hal lain yang meguatkan bahasa Indonesia
dalam perannya adalah tercantumnya dalam UUD 1945 (BAB XV, pasal 36) menyatakan
bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia dan sumpah pemuda 1928 pun
menyatakan sepakat bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang tunggal.
Di dalam derasnya
globalisasi perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung
pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu dan pengetahuan teknologi. Konsep
konsep dan istilah baru di dalam petumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa
Indonesia. Dengan
demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk
bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir
dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek.
Selain itu bahasa Indonesia di dalam
struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu
sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir
dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat
berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa
sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam
menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa
merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Bahasa Indonesia sebagai alat perhubungan
antar warga, antar daerah dan antar suku bangsa. Berkat adanya bahasa nasional
kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sehingga kesalah pahaman sebagai
akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa tidak perlu di
khwatirkan kita dapat berpergian dari pelosok ke pelosok lain di tanah air kita
dengan memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Di dalam peranannya
sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :
1.
Bahasa
resmi kenegaraan
2.
Bahasa
pengantar didalam dunia pendidikan
3.
Alat
perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan dan pelaksanaan
pembangunan,
4.
Alat
pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai
bahasa resmi kenegaraan , bahasa Indonesia dipakai didalam segala upacara,
peristiwa dan kegiatan kenegaraanbaik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk
tulisan. Termasuk kedalam kegiatan – kegiatan itu adalah penulisan dokumen –
dokumen dan putusan – putusan serta surat – surat yang dikeluarkan oleh
pemerintah dan badan – badan kenegaraan lainnya, serta pidato-pidato
kenegaraan.
Sebagai
fungsinya yang kedua didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara , bahasa
Indonesia merupakan bahasa pengantar di lembaga – lembaga pendidikan mulai
taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi diseluruh Indonesia ,
kecuali di daerah – daerah, seperti daerah aceh, batak , sunda , jawa , Madura
, bali , dan Makassar yang menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa
pengantar sampai dengan tahun ketiga pendidikan dasar.
Sebagai
fungsinya yang ketiga didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa
Indonesia adalah alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan pelaksanaan
pemerintah . didalam hubungan dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai bukan
saja sebagai alat komunikasi timbal – balik antara pemerintah dan masyarakat
luas, dan bukan saja sebagai alat perhubungan antar daerah dan antar suku ,
melainkan juga sebagai alat perhubungan didalam masyarakat yang sama latar belakang
social budaya dan bahasanya.
Di dalam
kedudukannya sebagai sumber pemerkaya bahasa daerah ,bahasa Indonesia
berperanana sangat penting. Beberapa kosakata bahasa Indonesia ternyata dapat
memperkaya khasanah bahasa daerah, dalam hal bahasa daerah tidak memiliki kata
untuk sebuah konsep. Bahasa Indonesia sebagai alat menyebarluaskan sastra
Indonesia dapat dipakai. Sastra Indonesia merupakan wahana pemakaian bahasa
Indonesia dari segi estetis bahasa sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa
yang penting dalam dunia internasional.
Di samping itu, sekarang ini fungsi bahasa
Indonesia telah pula bertambah besar. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa
massa. Media massa cetak dan elekstronik, baik visual, audio, maupun audo
visual harus memakai bahasa Indonesia. Media massa menjadi tumpuan kita dalam
menyebarluaskan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
B.
Ragam Bahasa
Ragam
bahasa atau variasi bahasa adalah bentuk atau wuduj bahasa yang ditandai oleh
cirri-ciri linguistic tertentu, seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Di
samping ditandai oleh ciri-ciri linguistic, timbulnya raam bahasa juga ditandai
oleh cirri-ciri nonlinguistic, misalnya, lokasi atau tempat penggunaannya,
lingkungan sosial pemakainya, dan lingkungan keprofesian pemakai bahasa yang
bersangkutan.
Pengertian
ragam bahasa menurut Bachman (1990), “Ragam bahasa adalah variasi bahasa
menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topic yang dibicarakan, menurut
hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium
pembicara.”
Pengertian
ragam bahasa menurut Dendy Sugono (1999),”Bahwa sehubungan dnegan pemakaian
bahasa Indonesia timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku
dan tidak baku.”
Pengertian
ragam bahasa menurut fishman ed (1968), “ Suatu ragam bahasa jurnalistik dan
hokum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk ragam bahasa baku
agar dapat menjadi tautan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia.”
Macam dan
jenis ragam bahasa :
1.
Ragam
bahasa pada bidang tertentu seperti bahasa istilah hokum, bahasa sains,
jurnalistik, dsb.
2.
Ragam
bahasa pada perorangan atau diolek seperti gaya bahasa mantan presiden
soeharto, gaya bahasa benyamin s,dsb.
3.
Ragam
bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah seperti dialeg bhasa
Madura, meda, sunda, dll.
4.
Ragam
bahasa pada bentuk bahasa seperti bahasa dan bahasa tulisan.
5.
Ragam
bahasa pada suatu situasi ragam bahasa formal dan informal.
Bahasa
lisan lebih expresif dimana mimic, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur
menjad satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Bahasa isyarat atau
gesture atau bahasa salah satu cara berkomunikasi melali gerakan gerakan tubuh.
Bahasa isyarat digunakan permanen oleh penyandang cacat karena mereka mempunyai
bahasa sendiri. Bahasa bisa punah karena kebanyak bahasa didunia ini tidak
statis. Bahasa itu berubah seiring
waktu, mendapat kata tambahan, dan mencuri kata kata dari bahasa lain. Bahasa
hidup dan berkembang ketika masyarakat penutur asli suatu bahasa disebut bahasa
mati atau punah, meskipun masih ada sedikit penutur asli yang menggunakan
tetapi generasi muda tidak lagi menjadi penutur bahasa tersebut.
Banyak
situasi yang menyebabkan bahasa punah, Orang Indonesia kini boleh jadi tidak
mengerti bahasa melayu yang digunakan di Indonesia awal abad ke -20/ Karena
bahasa Indonesia saat ini berasal dari bahasa melayu yang telah mengalami
infuse atau serapan dari kata kata asing. Karena pengaruh globalisasi dan IPTEK
menyabkan masyarakat Indonesia menggap bahasa Indonesia itu :
- Tidak
gaul
- Terlalu
formal
Rapuhnya bahasa Indonesa disebabkan
:
- Tergerus arus globalisasi
- Tidak adanya relasi masyarakat
dengan pemerintah tentang kebudayaan.
Ragam bahasa bisnis
Adalah ragam bahasa yang digunakan
dalam berbisnis, yang biasa digunakan oleh para pebisnis dalam menjalankan
bisnisnya.
Ciri-ciri
ragam bahasa bisnis :
1. Menggunakan bahasa yang komunikatif.
2. Bahasanya cenderung resmi.
3. Terikat ruang dan waktu.
4. Membutuhkan daanya orang lain.
Ragam bahasa hukum
Adalah bahasa
Indonesia yang corak penggunaan bahasanya khas dalam dunia hokum, mengingat
fungsinya mempunyai karakteristik sendiri, oleh karena itu bahasa hokum
Indonesia haruslah memenuhi syarat- syarat dan kaidah kaidah bahasa Indonesia.
Ciri cirri ragam bahasa hokum :
a. Mempunyai gaya bahasa yang khusus.
b. Lugas dan eksak karena menghindari
kesamaran dan ketaksaan.
c. Objektif dan menekan prasangka
pribadi.
d. Memberikan definisi yang cermat
tentang anama, sifat dan kategori yang diselidiki untuk menghindari
kesimpangsiuran.
e. Tidak beremosi dan menjauhi tafsiran
bersensasi
Kegiatan berfikir secara hukum
dengan menggunakan bahasa hukum merupakan upaya untuk menemukan pengertian yang
sensual dari hukum itu sendiri. Menurut Purnadi
Purwacaraka dengan Sorjoeno Soekanto dalam
buku (Bahder Johan Nasution) judul buku bahasa hokum tahun 2001 hal 37
menyebutkan ada 9 macam arti hokum yang diberikan masyarakat yaitu :
1. Hukum sebagai ilmu pengetahuan,
adalah suatu ilmu pengetahuan yang tersusun secara sistematis berdasarkan
kekuatan pemikiran.
2. Hukum sebagai suatu disiplin, adalah
suatu sistem tentang ajaran kenyataan atau gejala gejala yang dihadapi.
3. Hukum sebagai kaidah, adalah,
merupakan sebagai pola atau pedoman atau petunjuk yang harus ditaati.
4. Hukum sebagai tata hukum, adalah
melihat bagaimana struktur dan proses perangkat kaidah kaidah hukum yang
berlaku pada suatu waktu dan temoat tertentu dalam bentuk tertulis
Oleh karena itu bahasa hukum dapat
dibagi 3 kelompok yaitu :
1. Bahasa hukum yang bersumber pada aturan-aturan
yang dibuat oleh negara artinya lebih bersifat pengaturan hak dan kewajiban.
2. Bahasa hukum yang bersumber pada
aturan-aturan hukum yang berlaku dimasyarakat. Bahasa hukum seperti ini ditemui
dalam hukum adat dan tidak bertentangan dengan hukum negara.
3. Bahasa hukum yang bersumber dari
para ahli hukum, kelompok kelompok yang berprofesi hukum
Konstruksi Hukum
Konstruksi
hukum yang merupakan alat-alat yang dipakai untuk menyusun bahan hukum yang
dilakukan secara sistematis dalam bentuk bahasa dan istilah yang baik.
Sifat ilmu hukum adalah dogmatis dan
sistematis.
Dogmatis adalah, berprasangka baik atau berpedoman pada cara dan pendirian tertentu yang dianggap baik.
Dogmatis adalah, berprasangka baik atau berpedoman pada cara dan pendirian tertentu yang dianggap baik.
Sistematis adalah, kebulatan
pengertian dimana yang sati betauan dengan yang lain. Ada hubungan fungsi
antara yang satu dan yang lain sehingga istilah istilah yang dipakai memberikan
kesatuan pengertian yang mudah dipahami.
1. Gaya bahasa yang padat dan
sederhana, mudah dipahami.
2. Istilah –istilah yang dpilih
hendaknya sejauh mungkin bersifat mutlak dan tidak nisbih.
3. Peraturan itu hendaknya membatasi
diri pada hal hal yang nyata dan actual dengan menghindari hal –hal yang
bersifat metaporis dan hipotesis.
4. Peraturannya jangan terlalu tinggi,
oleh karena ia ditujukan untuk orang orang dengan kecerdasan tengah tengah saja
5. Janganlah masalah pokoknya
dikacaukan dengan pengecualian pembatasan atau modifikasi hal hal yang sangat
diperlukan
6. Peraturan hendaknya tidak mengandung
argumentasi
7. Setiap perundang undangan, sebelum
ditetapkan hendaknya dimatangkan dan dipertimbangkan segi kegunaan atau
kemanfaattan praktisnya (bermanfaat atau tidak)
C.
EYD dan Tanda Baca
EYD (Ejaan yang Disempurnakan
merupakan tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunakan bahasa
Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan
huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD diartikan sebagai tata bahasa
yang disempurnakan.
Pengertian Manajemen Menurut Dr. Ahuja
:
Manajemen adalah pihak yang menawarkan jasa untuk
segi bidang yang berhubungan dengan bidang manajemen.
Pengertian Manajemen Menurut Renville
Siagian :
Manajemen adalah suatu bidang usaha yang bergarak
dalam bidang jasa pelayanan dan dikelola oleh para tenaga ahli tyerlatih serta
berpengalaman.
Pengertian Manajemen Menurut Dr.
Bennett N.B Silalahi, M.A :
Manajemen adalah suatu ilmu perilaku yang mencakup
aspek sosial eksak tidak dari tanggungjawab keselamatan dan kesehatan kerja
baik dari segi perencanaan.
Pengertian Manajemen Menurut William
H. Newman :
Manajemen adalah fungsi yang berhubungan dengan
memperoleh hasil tertentu melalui orang lain.
Pengertian Manajemen Menurut Menurut
Drs. Oey :
Manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, pengkoordinasian dan pengontrolan.
Sejarah
ejaan bahasa Indonesia
Bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional lahir pada awal tahun dua puluhan. Namun dari
segi ejaan, bahasa indonesia sudah lama memiliki ejaan tersendiri. Berdasarkan
sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu :
1. Ejaan Van Ophuysen
1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan
ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan.
Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasari bahasa
Indonesia.
2. Ejaan Suwandi
2. Ejaan Suwandi
Setelah
ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu
ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai tahun 1972.
3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan
imi mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan
penyempurnaan yang pernah berlaku di Indonesia.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diterapkan secara resmi mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 57/1972 tentang peresmian berlakunya “Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia diharapkan dapat terwujud dengan baik.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diterapkan secara resmi mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 57/1972 tentang peresmian berlakunya “Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia diharapkan dapat terwujud dengan baik.
PERUBAHAN
PEMAKAIAN HURUF
DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA
Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
(mulai 16 Agustus 1972)
Ejaan Republik
(Ejaan Soewandi)
1947-1972
Ejaan Ophuysen
(1901-1947)
Khusu --------------à Chusus-------à Choesoes
Jumat---------------à Djum’at------à Djoem’at
Yakni----------------à Jakni---------à Ja’ni
DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA
Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
(mulai 16 Agustus 1972)
Ejaan Republik
(Ejaan Soewandi)
1947-1972
Ejaan Ophuysen
(1901-1947)
Khusu --------------à Chusus-------à Choesoes
Jumat---------------à Djum’at------à Djoem’at
Yakni----------------à Jakni---------à Ja’ni
Penulisan Huruf
Dua hal yang harus diperhatikan dalam penulisan huruf berdasarkan EYD, yaitu (1) penulisan huruf besar, dan (2) penulisan huruf miring. Lebih jelasnya dapat dilihat pada pembahasan berikut :
a. Penulisan Huruf Besar (Kapital)
Dua hal yang harus diperhatikan dalam penulisan huruf berdasarkan EYD, yaitu (1) penulisan huruf besar, dan (2) penulisan huruf miring. Lebih jelasnya dapat dilihat pada pembahasan berikut :
a. Penulisan Huruf Besar (Kapital)
Kaidah penulisan huruf besar dapat digunakan dalam
beberapa hal, yaitu :
1) Digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal
kalimat.
Misalnya :
- Dia menulis surat di kamar.
- Tugas bahasa Indonesiasudah dikerjakan.
- Dia menulis surat di kamar.
- Tugas bahasa Indonesiasudah dikerjakan.
2) Digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya :
- Ayah bertanya, “Apakah mahasiswa sudah libur?”.
- “Kemarin engkau terlambat”, kata ketua tingkat.
- Ayah bertanya, “Apakah mahasiswa sudah libur?”.
- “Kemarin engkau terlambat”, kata ketua tingkat.
3) Digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan
yang berhubungan dengan nama Tuhan, kata ganti Tuhan, dan nama kitab suci.
Misalnya :
- Allah Yang Maha kuasa lagi Maha penyayang.
- Terima kasih atas bimbingan-Mu ya Allah.
- Allah Yang Maha kuasa lagi Maha penyayang.
- Terima kasih atas bimbingan-Mu ya Allah.
4) Digunakan sebagai huruf pertama nama gelar
kehormatan , keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya :
- Raja Gowa adalah Sultan Hasanuddin.
- Kita adalah pengikut Nabi Muhammad saw.
- Raja Gowa adalah Sultan Hasanuddin.
- Kita adalah pengikut Nabi Muhammad saw.
5) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama
jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, pengganti nama orang tertentu,
nama instansi, dan nama tempat.
Misalnya :
Wakil Presiden Yusuf Kalla memberi bantuan mobil.
Laksamana Muda Udara Abd. Rahman telah dilantik.
Dia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Depdiknas.
Bapak Gubernur Sulawesi Selatan menerima laporan korupsi.
Wakil Presiden Yusuf Kalla memberi bantuan mobil.
Laksamana Muda Udara Abd. Rahman telah dilantik.
Dia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Depdiknas.
Bapak Gubernur Sulawesi Selatan menerima laporan korupsi.
6) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang.
Misalnya :
- Nurhikmah
- Dewi Rasdiana Jufri
- Nurhikmah
- Dewi Rasdiana Jufri
7) Digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan nama bahasa.
Misalnya :
- bangsa Indonesia
- suku Sunda
- bahasaInggris
- bangsa Indonesia
- suku Sunda
- bahasaInggris
8) Digunakan sebagai huruf pertama nama tahun,
bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
- tahun Hijriyah hari Jumat
- bulan Desember hari Lebaran
- Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
- tahun Hijriyah hari Jumat
- bulan Desember hari Lebaran
- Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
9) Digunakan sebagai huruf pertama nama geografi
unsur nama diri.
Misalnya :
- Laut Jawa Jazirah Arab
- Asia Tenggara Tanjung Harapan
- Laut Jawa Jazirah Arab
- Asia Tenggara Tanjung Harapan
10) Digunakan sebagai huruf pertama semua unsur nama
negara, lembaga pemerintah, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, kecuali
terdapat kata penghubung.
Misalnya :
- Republik Indonesia
- Majelis Permusyawaratan Rakyat
- Republik Indonesia
- Majelis Permusyawaratan Rakyat
Penulisan
huruf miring
Huruf miring digunakan untuk :
1) Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar
yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya :
- Buku Negarakertagama karangan Prapanca.
- Majalah Suara Hidayatullah sedang dibaca.
- Surat kabar Pedoman Rakyat akan dibeli.
- Buku Negarakertagama karangan Prapanca.
- Majalah Suara Hidayatullah sedang dibaca.
- Surat kabar Pedoman Rakyat akan dibeli.
2) Menegaskan dan mengkhususkan huruf, bagian kata,
kata, dan kelompok kata.
Misalnya :
- Huruf pertama kata abad adalah
- Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
- Buatlah kalimat dengan kata lapang dada.
- Huruf pertama kata abad adalah
- Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
- Buatlah kalimat dengan kata lapang dada.
3) Menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing.
Misalnya :
- Politik devideet et impera pernah merajalela di Indonesia.
Misalnya :
- Politik devideet et impera pernah merajalela di Indonesia.
4) Penulisan Kata
Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam penulisan kata, yaitu :
Kata Dasar
Kata dasar adalah kata
yang belum mengalami perubahan bentuk, yang ditulis sebagai suatu kesatuan.
Misalnya : Dia teman baik saya.
Misalnya : Dia teman baik saya.
Kata Turunan
(Kata berimbuhan)
Kaidah yang harus
diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu :
Imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata
dasarnya.
Misalnya : membaca, ketertiban, terdengar dan memasak.
Misalnya : membaca, ketertiban, terdengar dan memasak.
Awalan dan akhrian
ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya jika
bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
Misalnya : bertepuk tangan, sebar luaskan.
Jika bentuk dasarnya
berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, kata itu
ditulis serangkai.
Misalnya : menandatangani, keanekaragaman.
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya : antarkota, mahaadil, subseksi, prakata.
Misalnya : menandatangani, keanekaragaman.
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya : antarkota, mahaadil, subseksi, prakata.
Kata Depan (di, ke, dari)
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dengan
kata yang mengikutinya, kecuali pada gabungan kata yang dianggap padu sebagai
satu kata, seperti kepada dan daripada.
Misalnya : Jangan bermian di jalan
a. Saya
pergi ke kampung halaman.
b. Dewi
baru pulang dari kampus.
c. Kata
Sandang (si dan sang)
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya.
a. Misalnya
: Nama si pengrimi surat tidak jelas.
b. Anjing
bermusuhan dengan sang kucing.
Singkatan
dan Akronim
Singkatan adalah nama bentuk yang
dipendekkan yang terdiri atas satu kata atau lebih.
Misalnya : dll = dan lain-lain
yth = yang terhormat
Akronim adalah singkatan yang berupa
gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata
dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Misalnya : SIM = Surat Izin Mengemudi
IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu
pendidikan
Angka
dan Lambang Bilangan
Dalam
bahasa Indonesia ada dua macam angka yang lazim digunakan , yaitu : (1) Angka
Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dan (2) Angka Romawi : I, II, III, IV,
V, VI, VII, VIII, IX, X.
Lambang bilangan dengan huruf dilakukan
sebagai berikut :
1) Bilangan utuh. Misalnya : 15 lima
belas
2) Bilangan pecahan. Misalnya : 3/4 tiga
perempat
3) Bilangan tingakt. Misalnya : Abad II
Abad ke-2
4) Kata bilagan yang mendapat akhiran
–an.
Misalnya : tahun 50-an lima puluhan
5) Angka yang mneyatakan bilagnan bulat
yang besar dapat dieja sebagian supaya mudah dibaca.
Misalnya : Sekolah itu baru mendapat
bantuan 210 juta rupiah.
6) Lambang bilangan letaknya pada awal
kalimat ditulis dengan huruf. Kalau perlu diupayakan supaya tidak diletakkan di
awal kalimat dengan mengubah struktur kalimatnya dan maknanya sama.
Misalnya : Dua puluh lima siswa SMA
tidak lulus. (benar)
55 siswa SMA 1 tidak lulus. (salah)
7) Lambang bilangan yang dapat
dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali beberapa
dipakai secara berurutan seperti dalam perincian atau pemaparan.
Misalnya : Amir menonton pertunjukan itu
selama dua kali.
Pemakaian Tanda Baca
Tanda Titik (.)
Penulisan tanda titik
di pakai pada :
a.
Akhir kalimat
yang bukan pertanyaan atau seruan
b.
Akhir singkatan
nama orang.
Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Singkatan atau ungkapan yang sudah sangat umum.Bila singkatan itu terdiri atas tiga hurus atau lebih dipakai satu tanda titik saja.
Singkatan atau ungkapan yang sudah sangat umum.Bila singkatan itu terdiri atas tiga hurus atau lebih dipakai satu tanda titik saja.
Tanda koma (,)
Kaidah penggunaan tanda
koma (,) digunakan :
Antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Digunakan dibelakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk kata : (1) Oleh karena
itu, (2) Jadi, (3) lagi pula, (4) meskipun begitu, dan (5) akan tetapi.
Digunakan untuk memisahkan kata seperti : o, ya, wah, aduh, dan kasihan.
Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Dipakai diantara : (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4) nama dan tempat yang ditulis secara berurutan.
Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Digunakan untuk memisahkan kata seperti : o, ya, wah, aduh, dan kasihan.
Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Dipakai diantara : (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4) nama dan tempat yang ditulis secara berurutan.
Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Dipakai antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau
marga.
Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Dipakai di antara
bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.
Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.
Tanda Titik Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai
pada akhir kalimat tanya.
Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan
bagian kalimat yang diragukan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dugunakan
sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang
menggambarkan kseungguhan, ketidakpercayaan, dan rasa emosi yang kuat.
Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma
dipakai :
Memisahkan
bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai
:
Sesudah kata atau
ungkapan yang memerlukan pemberian.
Pada akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan .
Pada akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan .
Di antara jilid atau
nomor dan halaman
Di antara bab dan ayat
dalam kitab suci.
Di antara judul dan
anak judul suatu karangan.
Tidak dipakai apabila
rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Tanda Elipsis (…)
Tanda ini menggambarkan
kalimat-kalimat yang terputus-putus dan menunjukkan bahwa dalam suatu petikan
ada bagian yang dibuang. Jika yang dibuang itu di akhir kalimat, maka dipakai
empat titik dengan titik terakhir diberi jarak atau loncatan.
Tanda Garis Miring ( /
)
Tanda garis miring ( /
) di pakai :
Dalam penomoran kode
surat sebagai pengganti kata dan,atau, per, atau nomor alamat.
Tanda Penyingkat atau Apostrof
( ‘)
Tanda penyingkat
menunjukkan penghilangan sebagian huruf.
Tanda Petik Tunggal (
‘…’ )
Tanda petik tunggal dipakai
:
Mengapit petikan yang
tersusun di dalam petikan lain.
Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Tanda Petik ( “…” )
Tanda petik dipakai :
Mengapit kata atau
bagian kalimat yang mempunyai arti khusus, kiasan atau yang belum dikenal . Mengapit
judul karangan, sajak, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
Mengapit petikan
langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
No comments:
Post a Comment