BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Secara umum, tahap-tahap yang perlu dilakukan
dalam menyusun karangan ilmiah dibagi menjadi lima tahap, yaitu: (1) persiapan,
(2) pengumpulan data, (3) pengorganisasian dan pengonsepan, (4) pemeriksaan
atau penyuntingan konsep, dan (5) penyajian. Tahap persiapan adalah tahap awal
yang perlu dilakukan dalam menulis karangan ilmiah. Tahap ini terdiri dari,
memilih topik, menentukan judul, dan membuat kerangka karangan. Topik yang
dipilih sebaiknya topik yang menarik dan diketahui oleh penulis. Selain itu, topik
yang baik adalah topik yang mempunyai lingkup yang terbatas. Setelah menentukan
topik langkah selanjutnya adalah menentukan judul. Penentuan judul dalam
karangan ilmiah dapat dilakukan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan apa,
mengapa, di mana, kapan, bagaimana. Selain itu, dalam membuat sebuah karangan
ilmiah judul haruslah berupa frasa bukan kalimat. Langkah terakhir dalam tahap
persiapan adalah menentukan kerangka karangan. Kerangka ini nantinya akan
membantu dalam proses penulisan karangan. Selain itu, kerangka inilah yang akan
menjadi acuan dalam membuat karangan sehingga akan menjadi runtut dan teratur
dalam memaparkan atau menganalisis masalah. Tahap kedua dalam menulis karangan
ilmiah adalah pengumpulan data. Data dapat diperoleh dari beberapa sumber
yaitu, media dan lapangan. Data yang diperlukan dapat diperoleh dari media,
antara lain buku, koran, majalah, internet, ataupun media yang lain. Selain
itu, data juga dapat diperoleh langsung di dalam lapangan. Data yang berasal
dari lapangan dapat diperoleh dengan cara pengamatan, wawancara, atau
eksperimen. Data yang dikumpulkan haruslah data yang relevan dengan karangan
yang akan dibuat. Dalam pengorganisasian atau pengonsepan, data yang telah kita
peroleh dibagi berdasarkan jenis, sifat, atau bentuk. Pada tahap ini dilakukan
pengolahan dan penganalisisan data dengan menggunakan teknik yang diperlukan.
Misalnya, data yang bersifat kuantitatif dapat diolah dan dianalisis dengan
menggunakan teknik atau metode statistik. Setelah data diolah dan dianalisis,
kemudian dapat dilakukan pengonsepan karangan ilmiah sesuai dengan kerangka
yang telah dibuat. Tahap keempat adalah pemeriksaan atau penyuntingan konsep.
Dalam tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap konsep yang saling bertentangan
maupun yang berulang-ulang. Dalam tahap ini, penjelas yang tidak diperlukan
maka akan dibuang, sedangkan penjelas baru yang akan mendukung karangan akan
ditambahkan untuk menunjang pembahasan. Tahap terakhir dalam menyusun karangan
ilmiah adalah penyajian. Dalam penyajian karangan ilmiah haruslah diperhatikan
dari segi bahasa dan bentuk penyajian. Kalimat yang digunakan dalam menulis
karangan ilmiah harus sesuai dengan standar Bahasa Indonesia yang baku.
Sedangkan dalam bentuk penyajian, perlu diperhatikan urutan unsur-unsur
karangan dan ketentuan yang berlaku.
Rumusan Masalah
Dengan memulainya berbagai Tugas Akhir yang akan
ditujukan kepada mahasiswa tingkat akhir, maka makalah ini tentunya akan
berguna jika di telaah dan di baca oleh pembaca. Dan bagi para pelajar juga sangat
membantu dalam membuat makalah dengan benar
Tujuan
1.
Mengetahui
Perencanaan Penulisan Karangan Ilmiah
2.
Mengetahui
Kerangka Karangan
BAB II
ISI
PERENCANAAN
PENULISAN KARANGAN ILMIAH
Penulisan
sebuah karangan menuntut beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.persyaratan
ini menyangkut isi, bahasa, dan teknik penyajian oleh karena itu sebuah
karangan perlu direncanakan dan tentunya sesuai dengan penggolongan
karangannya, baik menurut bentuk, ragam, jenis, rumpun, ataupun macam
karangannya. Adapun penggolongan menurut bentuknya:
1. Cerita (Narasi)
2. Lukisan (Deskripsi)
3. Paparan (Eksposisi)
4. Bincangan (Argumentasi)
Penggolongan menurut jenis,ragam,dan rumpun memiliki keterkaitan yang saling berkaitan. Dalam ragam sampai macam karangan kemungkinan pilihan semakin luas sehingga penentuan karangan yang akan ditulis harus semakin diarahkan untuk sampai pada pemilihan terakhir.
Kegiatan penulisan karangan dapat sebagai suatu kegiatan tunggal dan sebagai kesatuan proses.Dikatakan sebagai suatu kegiatan tunggal jika yang ditulis merupakan sebuah karangan yang sederhana,pendek,dan bahannya sudah dikuasai penuh.Sedangkan kegiatan yang merupakan proses, apabila kegiatan itu dilaksanakan dalam beberapa tahap yakni:
1. Cerita (Narasi)
2. Lukisan (Deskripsi)
3. Paparan (Eksposisi)
4. Bincangan (Argumentasi)
Penggolongan menurut jenis,ragam,dan rumpun memiliki keterkaitan yang saling berkaitan. Dalam ragam sampai macam karangan kemungkinan pilihan semakin luas sehingga penentuan karangan yang akan ditulis harus semakin diarahkan untuk sampai pada pemilihan terakhir.
Kegiatan penulisan karangan dapat sebagai suatu kegiatan tunggal dan sebagai kesatuan proses.Dikatakan sebagai suatu kegiatan tunggal jika yang ditulis merupakan sebuah karangan yang sederhana,pendek,dan bahannya sudah dikuasai penuh.Sedangkan kegiatan yang merupakan proses, apabila kegiatan itu dilaksanakan dalam beberapa tahap yakni:
1.Tahap Prapenulisan
Dalam tahap prapenulisan direncanakan hal-halpokok yang akan mengarahkan penulis dalam seluruh kegiatan penulisan karangan.
2.Tahap Penulisan
Dalam tahap penulisan atau pengembangan,merupakan pelaksanaan tentang hal-hal yang direncanakan,yaitu pengembangan gagasan dalam kalimat-kalimat,satuan paragraf,bagian atau bab.
3.Tahap Revisi
Dalam tahap revisi yang dilakukan adalah membaca dan menilai kembali mengenai keseluruhan yang telah ditulis,memperbaiki,mengubah,bahkan diperluas kembali isi karangannya.
Namun dalam prakteknya ketiga tahap penulisan
tersebut tidak dapat dipisahkan secara jelas karena sering bertumpang
tindih.Pada saat membuat perencanaan,mungkin kita sudah mulai menulis dan pada
waktu kita menulis mungkin kita sudah melakukan revisi disana sini. Tumpang
tindah ini terutama terjadi jika yang ditulis karangan pendek berdasarkan
sesuatu yang diketahui.Sedangkan dalam karangan yang panjang,seperti
makalah,skripsi tahap-tahap penulisan itu terpisah secara jelas.
Dalam merencanakan sebuah karangan supaya menghasilkan suatu karangan yang baik dan sistematis,terdapat langkah-langkahnya yakni menentukan:
Dalam merencanakan sebuah karangan supaya menghasilkan suatu karangan yang baik dan sistematis,terdapat langkah-langkahnya yakni menentukan:
A. Pemilihan Topik
Pemilihan topik
merupakan hal terpenting dalam penulisan ilmiah, karena pemilihan topik
menentukan batasan-batasan isi atau permasalahan yang akan dibahas selanjutnya.
Dalam memilih topik karya ilmiah, terdapat beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan :
·
topik yang dipilih hendaknya menarik untuk dikaji.
·
topik jangan terlalu luas dan terlalu sempit.
·
topik yang dipilih sesuai dengan mminat dan kemampuan penulis.
·
topik yang dikaji hendaknya ada manfaatnya untuk menambah ilmu
pengetahuan atau berkaitan dengan profesi.
B. Pembatasan Topik
Seorang penulis harus
membatasi topik yang akan digarapnya. Setiap penulis harus betul-betul yakin
bahwa topik yang dipilihnya cukup dan terbatas sehingga tulisannya dapat
terfokus.
C. Pemilihan Judul
Pemilihan judul, akan
menggambarkan tingkat kedalaman dan cakupan dari sebuag penelitian yang akan
dibahas. Bagi pembaca, judul akan dianggap mewakili bobot sebuah hasil
penelitian yang ditulis, bahkan merupakan gambaran mutu tulisan yang akan
digarap.
D. Menentukan Tujuan Penulisan
Menetapkan tujuan yaitu
menyampaikan maksud dari penulisan karya ilmiah atau penelitian yang akan di
buat, sehingga pembaca dapat mengetahui manfaat yang diperoleh dari karangan
ilmiah tersebut. Namun kita harus seksama, sering kali penulis memberikan
tujuan yang sangat luas sehingga topik yang dibahas keluar dari apa yang sudah
dibataskan.
E. Menentukan Kerangka Karangan
Kerangka karangan akan
membuat penulisan lebih terarah dan sesuai dengan tujuan dibuatnya karangan
ilmiah tersebut, supaya tidak melenceng terlalu jauh karena kerangka karangan
merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu tulisan.
Disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur dan teratur. Beberapa
fungsi kerangka karangan :
·
untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan
terarah.
·
kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan
tulisan dalam sekilas pandang.
·
memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda.
·
menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih.
·
dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangkan,
penulis lebih mudah untuk mengembangkan apa yang ingin dijabarkan.
F. Langkah-Langkah Penulisan Ilmiah
Metode ilmiah penelitian
dan pengembangan menulis karya ilmiah adalah suatu cara untuk pelaksanaan
secara sistematis dan objektif yang mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Melakukan observasi dan menetapkan masalah
dan tujuan. Langkah awal dalam penulisan ilmiah yaitu melakukan pengamatan atas
objek yang diteliti dan menetapkan masalah dan tujuan yang akan diteliti.
2. Menyusun hipotesis. Menyusun dugaan-dugaan
yang menjadi penyebab dari objek penelitian.
3. Menyusun rancangan penelitian. Ini
merupakan kerangka kerja bagi penelitian yang dilakukan.
4. Melaksanakan percobaab berdasarkan metode
yang direncanakan. Kegiatan nyata dari proses penelitian dalam bentuk percobaan
terkait penelitian yang dilakukan.
5. Melaksanakan pengamatan dan pengumpulan data.
Setelah melakukan percobaan atas objek penelitian, maka selanjutnya melakukan
pengamatan pada objek penelitian.
6. Menganalisis dan menginterprrestasikan data.
Menjelaskan segala kondisi yang terjadi pada saat pengamatan atau penelitian.
7. Merumuskan kesimpulan. Menarik kesimpulan
dari semua proses percobaan, pengamatan, penganalisaan dan penginterprestasian
terhadap objek penelitian.
8. Melaporkan hasil penelitian. Langkah inilah yang
sesungguhnya merupakan proses penulisan karangan ilmiah. Pada langkah ini kita
telah menyusun sebuah karya tulis ilmiah yang akan memberikan manfaat bagi
pembaca.
Tujuan Karya Ilmiah
·
Sebagai
wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk
tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
·
Menumbuhkan
etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu
pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya
tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
·
Karya
ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi
pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat
membacanya.
·
Membuktikan
potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan
menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan
memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
Melatih
keterampilan dasar untuk melakukan penelitian
Manfaat Karya Ilmiah
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah
berikut:
·
Melatih
untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif.
·
Melatih
untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber.
·
Mengenalkan
dengan kegiatan kepustakaan.
·
Meningkatkan
pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis.
·
Memperoleh
kepuasan intelektual.
·
Memperluas
cakrawala ilmu pengetahuan.
·
Sebagai
bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya.
Sistematika Penulisan
Karya Ilmiah
Bagian
Pembuka
·
Sampul
·
Halaman
judul.
·
Halaman
pengesahan.
·
Abstraksi
·
Kata
pengantar.
·
Daftar
isi.
·
Ringkasan
isi.
Bagian Isi
Pendahuluan
·
Latar
belakang masalah.
·
Perumusan
masalah.
·
Pembahasan/pembatasan
masalah.
·
Tujuan
penelitian.
·
Metode
penelitian.
Pembahasan
·
Pembahasan
teori
·
Kerangka
pemikiran dan argumentasi keilmuan
·
Pengajuan
hipotesis
Metodologi penelitian
·
Waktu
dan tempat penelitian.
·
Metode
dan rancangan penelitian
·
Populasi
dan sampel.
·
Instrumen
penelitian.
·
Pengumpulan
data dan analisis data.
Hasil Penelitian
·
Jabaran
varibel penelitian.
·
Hasil
penelitian.
·
Pengajuan
hipotesis.
·
Diskusi
penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya.
Penutup
·
Kesimpulan
·
Saran
Bagian Penunjuang
·
Daftar pustaka
·
Lampiran – lampiran antara lain instrument
penelitian
·
Daftar table
KERANGKA KARANGAN
A. Pengertian
Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah rencana penulisan yang memuat
garis-garis besar dari suatu karangan yang akan ditulis, dan merupakan
rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur,
dan teratur. Kerangka karangan dibuat untuk mempermudah penulisan agar tetap
terarah dan tidak keluar dari topik atau tema yang dituju. Pembuatan kerangka
karangan ini sangat penting, terutama bagi penulis pemula, agar tulisan tidak
kaku dan penulis tidak bingung dalam melanjutkan tulisannya.
B. Manfaat
Kerangka Karangan
Adapun manfaat kerangka karangan secara umum adalah untuk
menyusun karangan secara teratur. Selain itu ada beberapa manfaat kerangka
karangan, antara lain :
a. Mempermudah
pembahasan tulisan.
b. Menghindari
isi tulisan keluar dari tujuan awal.
c. Menghindari
penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih.
d. Memudahkan
penulis mencari materi tambahan.
e. Menjamin
penulis bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
f. Memudahkan
penulis mencapai klimaks yang berbeda-beda.
Dengan adanya kerangka karangan, penulis bisa langsung
menyusun tulisannya sesuai butir-butir bahasan yang ada dalam kerangka
karangannya. Kerangka karangan merupakan miniatur dari sebuah karangan. Dalam
bentuk ini, karangan tersebut dapat diteliti, dianalisi, dan dipertimbangkan
secara menyeluruh.
C. Syarat-syarat
Kerangka Karangan yang Baik
Adapun syarat-syarat kerangka karangan yang baik antara lain :
a. Pengungkapan maksudnya harus
jelas.
b. Tiap
unit dalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan.
c. Pokok-pokok dalam kerangka
karangan harus disusun secara logis.
d. Harus
menggunakan pasangan simbol yang konsisten.
D.
Macam-macam Susunan Kerangka Karangan
Ada beberapa macam-macam susunan kerangka karangan , antara lain :
1. Alamiah
Suatu
urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan nyata di alam. Oleh
karena itu, susunan alamiah dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu :
a) Berdasarkan
urutan ruang.
Topik yang diuraikan berkaitan erat
dengan ruang / tempat : dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, urutan
geografis.
Contoh a :
Topik : Banjir.
Tujuan : Untuk mengetahui lokasi
banjir.
Tema : Beberapa lokasi banjir di
dunia.
I. BANJIR YANG TERJADI DI LUAR
INDONESIA
A.
Banjir di Asia
1.
Banjir di China.
2. Banjir di Taiwan.
B. Banjir di Eropa
1. Banjir di Belanda.
2. Banjir di Inggris.
II. BANJIR YANG TERJADI DI INDONESIA.
A.
Banjir di Pulau Jawa
1. Banjir di DKI Jakarta.
2. Banjir di
Pacitan.
B.
Banjir di luar Pulau Jawa
1. Banjir di Papua Barat.
2. Banjir di Padang.
b) Berdasarkan
urutan waktu.
Bahan-bahan
ditulis berdasar tahap kejadian. Setiap peristiwa hanya menjadi penting dalam
hubungannya dengan yang lain.
Contoh b :
Topik: masyarakat
Tujuan: untuk mengetahui
perkembangan masyarakat
Tema: Perkembangan masyarakat
dari zaman ke zaman.
I. MASYARAKAT PEMBURU DAN
PERAMU
A.
Masyarakat Pemburu dan Peramu di Dunia
B.
Masyarakat Pemburu dan Peramu di Indonesia
1. Di Irian
2. Di Kepulauan Mentawai
II. MASYARAKAT PETANI DAN
PETERNAK
A.
Masyarakat Petani dan Peramu di Dunia
B.
Masyarakat Petani dan Peternak di Indonesia
1. Masyarakat petani di Pulau Jawa
2. Masyarakat peternak di Nusa TenggaraTimur
III. MASYARAKAT INDUSTRI
A.
Masyarakat Industri Modern
B.
Masyarakat Industri Canggih
c) Berdasarkan
urutan topic yang ada.
Bagian-bagian
diterangkan tanpa memasalahkan mana yang penting. Misal, laporan keuangan :
pemasukan dan pengeluaran, bagian-bagian dalam sebuah lembaga, dll.
Contoh c :
Topik: Hutan
Tujuan: Untuk mengetahui pemanfaatan
hutan
Tema: Pemanfaatan hutan.
I. MANFAAT HUTAN SECARA ALAMIAH
A. Mencegah Erosi
B. Mengurangi
Polusi
1. Polusi Udara
2. Polusi Suara
C.
Sebagai Hutan Lindung
II. MANFAAT HUTAN SECARA EKONOMIS
A. Hutan Tanaman Industri
B. Hutan untuk Rekreasi
C. Hutan untuk
Penelitian
2. Logis
Merupakan
unit-unit karangan berurutan sesuai pendekatan logika / pola pikir manusia.
Untuk susunan logis, dibagi berdasarkan :
a) Klimaks-Anti
klimaks
Anggapan
bahwa posisi tertentu dari sebuah rangkaian merupakan posisi yang paling
penting. Terdiri dari dua :
1. Urutan
klimaks = yang penting di akhir.
2. Urutan
antiklimaks = yang penting di awal.
Model ini hanya efektif untuk
menguraikan sesuatu yang berhubungan dengan hirarki misalnya urutan
pemerintahan.
Contoh a:
Topik: Banjir
Tujuan: Untuk mengetahui akibat
banjir
Tema: Banjir dan akibatnya
I. MUSIM PENGHUJAN MULAI
II.PENGGUNDULAN HUTAN
III. EROSI DI MANA-MANA
IV. PENDANGKALAN SUNGAI
V. MUSIBAH BANJIR
VI. PENDERITAAN MASYARAKAT
b) Umum-Khusus
1. Umum
– khusus : Hal besar diperinci ke
hal- hal yang lebih kecil atau bagian-bagiannya. Misalnya uraian tentang
Indonesia, lalu suku-suku dan kebudayaannya.
2. Khusus
– Umum : Sebaliknya.
Contoh b :
Topik: Pendidikan
Tujuan: Untuk mengetahui pendidikan
di masyarakat
Tema: Pendidikan di masyarakat
I.
PENDIDIKAN DALAM LINGKUNGAN MASYARAKAT SECARA UMUM
II.
PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT PERKOTAAN
III. PENDIDIKAN DI MASYARAKAT
PEDESAAN
IV. PENDIDIKAN PADA GENERASI MUDA
c) Sebab-Akibat
1. Sebab ke
akibat : masalah utama sebagai sebab, diikuti
perincian akan akibat-akibat yang mungkin terjadi. Misal ; penulisan
sejarah, berbagai persoalan sosial : kerusakan hutan, perubahan
cuaca global.
2. Akibat ke
sebab : masalah tertentu sebagai akibat, diikuti
perincian sebab-sebab yang menimbulkannya. Misal : Krisis multidimensi di
Indonesia.
Contoh c :
Topik: Premanisme di Jakarta
I. PERTUMBUHAN EKONOMI YANG
TERSENDAT
II. INDUSTRI TUTUP KARENA BAHAN
BAKAR LANGKA
III. LAPANGAN KERJA MENCIUT
IV. MENCARI UANG DENGAN CARA MUDAH
d) Proses
Dimulai
dari penyajian masalah sampai penulisan kesimpulan
umum atau solusi.
Contoh: Banjir di Jakarta,
penyebabnya dan alternatif penyelesaiannya.
Sistem
Penomoran pada Kerangka Karangan
Ada
dua cara :
1.
Sistem Campuran Huruf dan Angka.
I . Angka Romawi Besar untuk
BAB
A. Huruf Romawi
Besar untuk Sub Bab
1. Angka Arab besar
a. Huruf Romawi Kecil
i. Angka Romawi Kecil
(a) Huruf Romawi Kecil Berkurung
(1) Angka Arab Berkurung
Contoh 1 :
I. Pendahuluan
II. Tingkat Ekonomi dan
Fertilitas di Indonesia
A.
Bukti-Bukti dari Sensus 2000
B.
Bukti-Bukti dari Survei Fertilitas-Mortalitas 1995
C.
Studi Kasus di Lampung
1. Pengukuran Fertilitas
2. Penyebab Perbedaan fertilitas
a. Retaknya Perkawinan
b. Abstinensi Setelah Melahirkan
c. Perbedaan Fekunditas
E. Langkah-Langkah
Menyusun Kerangka Karangan
Pada dasarnya, untuk menyusun karangan dibutuhkan
langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang
memudahkan kita dalam mengembangkan karangan, berikut langkah-langkahnya,
antara lain :
1. Menentukan
tema dan judul
Sebelum anda mau melangkah, pertama kali dipikirkan adalah
mau kemana kita berjalan? lalu bila menulis, apa yang akan kita tulis? Tema
adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari
suatu karangan. Sedangkan yang dimaksud dengan judul adalah kepala karangan.
Kalau tema cakupannya lebih besar dan menyangkut pada persoalan yang diangkat
sedangkan judul lebih pada penjelasan awal (penunjuk singkat) isi karangan yang
akan ditulis. Tema sangat terpengaruh terhadap wawasan penulis. Semakin banyak
penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan
memperlancar penulis memperoleh tema. Namun, bagi pemula perlu memperhatikan
beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan. diantaranya :
a. Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu
luas.
b. Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini
dapat kita kembangkan.
c. Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat
dengan mudah kita peroleh.
Terkadang
memang dalam menentukan tema tidak selamanya selalu sesuai dengan syarat-syarat
diatas. Contohnya saat lomba mengarang, tema sudah disediakan sebelumnya dan
kita hanya bisa memakainya.Ketika tema sudah didapatkan, perlu diuraikan atau
membahas tema menjadi suatu bentuk karangan yang terarah dan sistematis. Salah
satu caranya dengan menentukan judul karangan. Judul yang baik adalah judul
yang dapat menyiratkan isi keseluruhan karangan kita.
2. Mengumpulkan
bahan
Setelah punya tujuan, dan mau melangkah, lalu apa bekal
anda? Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalam
menunjukkan eksistensi tulisan. Bagaimana ide, dan inovasi dapat diperhatikan
kalau tidak ada hal yang menjadi bahan ide tersebut muncul. Buat apa ide
muluk-muluk kalau tidak diperlukan. Perlu ada dasar bekal dalam melanjutkan
penulisan. Untuk membiasakan, kumpulkanlah kliping-kliping masalah tertentu
(biasanya yang menarik penulis) dalam berbagai bidang dengan rapi. Hal ini
perlu dibiasakan calon penulis agar ketika dibutuhkan dalam tulisan, penulis
dapat membuka kembali kliping yang tersimpan sesuai bidangnya. Banyak cara
mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara sesuai juga dengan tujuan
tulisannya.
3. Menyeleksi
bahan
Setelah ada bekal, dan mulai berjalan, tapi bekal mana yang
akan dibawa? agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan
yang sesuai dengan tema pembahasan. Polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi
bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis. berikut ini
petunjuk-petunjuknya :
a. Catat hal penting semampunya.
b. Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
c. Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan
ilmiah.
4. Membuat
kerangka
Ada 2 macam karangan yaitu karangan yang bersifat fiksi dan
karangan yang bersifat nonfiksi. Fiksi lebih kearah khayalan sedangkan nonfiksi
lebih ke arah kejadian nyata (benar-benar terjadi). Penulisan karya tulis
merupakan salah satu contoh karangan nonfiksi karena kejadiannya yang
benar-benar dialami, atau dikerjakan. Sedangkan karangan fiksi contoh nyatanya
adalah cerita pendek yang terkadang berupa cerita yang tidak mungkin terjadi.
Bekal ada, terpilih lagi, terus melangkah yang mana dulu? Perlu kita susun
selangkah demi selangkah agar tujuan awal kita dalam menulis tidak hilang atau
melebar ditengah jalan. Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah
menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur. Kerangka karangan belum
tentu sama dengan daftar isi, atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan
catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai
tahap yang sempurna.
Tahapan
dalam menyusun kerangka karangan :
a. Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon
pikiran (diagram yang menjelaskan gagasan2 yang timbul).
b. Mengatur urutan gagasan.
c. Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan
subbab.
d. Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap
Merangka
karangan yang baik adalah kerangka yang urut dan logis. Bila terdapat ide yang
bersilangan, akan mempersulit proses pengembangan karangan. (karangan tidak
mengalir)
5. Mengembangkan
kerangka karangan
Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan. Pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Alur pengembangan juga harus disusun secara teliti dan cermat. Semakin sistematis, logis dan relevan pada tema yang ditentukan, semakin berbobot pula tulisan yang dihasilkan.
Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan. Pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Alur pengembangan juga harus disusun secara teliti dan cermat. Semakin sistematis, logis dan relevan pada tema yang ditentukan, semakin berbobot pula tulisan yang dihasilkan.
DAFTAR ISI