Sunday, April 26, 2015

Perkembangan Jaringan Telekomunikasi di Indonesia dengan Negara Lain.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.
 
Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia sampai dengan saat ini berkembang dengan pesat seiring dengan penemuan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi dan Komunikasi sehingga mampu menciptakan alat-alat yang mendukung perkembangan Teknologi Informasi, mulai dari sistem komunikasi sampai dengan alat komunikasi yang searah maupun dua arah (interaktif). Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia selalu mengadaptasi berbagai teknologi informasi hingga akhirnya tiba di suatu masa di mana pengunaan internet mulai menjadi ”makanan” sehari-hari yang dikenal dengan teknologi berbasis internet (internet based technology).
 
Jaman dahulu sebelum berkembangnya teknologi, orang-orang Indonesia harus menempuh jarak yang jauh untuk mengantarkan sebuah surat atau pesan kepada orang lain, tetapi lain dengan jaman sekarang dan perkembangan itu sendiri di Indonesia dimulai dengan Satelit Palapa (9Juli 1976) yang memudahkan arus komunikasi dan teknologi, yakni telepon, fax, dll. Setelah itu perkembangan dilanjutkan dengan berkembanganya jaringan sellular, yaitu GSM pertama di Indonesia, yakni sebuah teknologi komunikasi bergerak yang tergolong dalam generasi kedua (2G). Diharapkan  Indonesia harus terus menerus berinovasi dan menghasilkan buah karya atau produk dari IPTEK, sehingga penanaman IPTEK terhadap anak-anak sebagai generasi penerus harus diupayakan sedini mungkin, sehingga pada masa yang akan datang Indonesia pasti akan dapat menyaingi negara-negara lainnya dalam hal teknologi.
 
Teknologi yang mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa dekade ini adalah handphone (telepon selular). Salah satu perkembangan pertama handphone adalah SMS. SMS pertama kali dikirim oleh Neil Papworth dan diterima Richard Jarvis pada Desember 1992 dari komputer ke telepon. Isi pesannya adalah “Merry Christmas“. SMS ini menggunakan ruang sinyal kendali arus di GSM (global system for mobile). Awalnya 128 karakter (16 bit), tapi diconvert ke basis 7 sehingga bisa 140 karakter. Jadi SMS awalnya hanya untuk memanfaatkan ruang kosong pengaturan sinyal di sistem GSM, tapi sekarang SMS bisa dibilang menjadi kebutuhan dasar para pengguna telepon seluler.
 
Fitur SMS dimulai tahun 1993, dan tidak dikembangkan secara serius. Cuma Nokia yang serius dengan membuat handset berstandar E-161 atau biasa kita sebut dengan keypad tipe Alfanumerik. Inilah awal mula Nokia booming.
 
Akan tetapi, saat ini penggunaan keypad alfanumerik juga sudah mulai ditinggalkan, orang sudah banyak beralih ke handphone yang menggunakan keypad qwerty. Tren ini dipelopori oleh BlackBerry. Ada hal yang menarik  mengenai pemberian nama/merk Blackberry. Ternyata hal ini terkait atas paten mereka atas Keyboard. Perusahaan Kanada ini pegang paten keyboard berkontur. Dengan kontur ini, orang bisa mengetik dengan mantap walaupun keyboardnya kecil. Karena keyboard kecil ini berjejal-jejal dan berdekatan dengan tuts warna hitam menyerupai buah berry hitam, maka disebutlah dengan Blackberry. Keyboard mini inilah yang membuat pangsa pasar Blackberry naik, karena bisa digunakan dengan aman dan cepat.
 
Selain handphone, teknologi yang juga mengalami perkembangan dengan amat sangat cepat adalah Internet. Keberadaan internet saat ini sudah semakin mudah kita temui dan dengan harga yang terjangkau. Segala aspek kehidupan bahkan dapat dikatakan bisa diakses melalui internet kapan saja dan dari mana saja. Internet menyederhanakan ruang dan waktu di antara manusia di berbagai belahan dunia.
 
Ledakan Internet di Indonesia sendiri terjadi sekitar tahun 1994. Sebelumnya Internet sudah masuk ke Indonesia melalui jaringan akademis dan pusat riset, sehingga hanya golongan akademis dan peneliti yang dapat memanfaatkannya. Itupun masih terbatas pada fasilitas e-mail saja. Nicholas Negroponte sendiri mengakui, “…bahwa pertumbuhan host Internet tercepat pada kwartal ketiga 1994 terjadi di Argentina, Iran, Peru, Mesir, Filipina, Federasi Rusia, Slovenia dan Indonesia.”
 
Menurut catatan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), teknologi komputer baru diperkenalkan di Indonesia dalam kurun antara tahun waktu 1970-1972-an. Untuk lebih jelas sejarah perkembangan teknologi informasi di Indonesia setelah tahun 1972, bisa terlihat dalam daftar berikut ini.

1972 s/d 1975  :
•    PUSILKOM UI mulai melakukan kegiatan operasional komputasi di lingkungan kampus UI.
•    UI mengirimkan 2 (dua) orang staf PUSILKOM ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang ilmu komputer.
 
1975 s/d 1986   :
•    UI kembali mengirimkan 4 (empat) orang staf PUSILKOM ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang ilmu komputer.
 
1984    :
•    Beberapa jaringan teknologi informasi di Indonesia mulai terhubung ke internet melalui jaringan UI-net. Jaringan internet Indonesia pada saat itu berjalan di atas protokol UUC, sedangkan umumnya menggunakan TCP/IP. Domain .id sudah muncul dan diakui pada tahun ini.
 
1986-an    :
•    Terbentuknya jaringan yang menghubungkan kampuskampus besar Indonesia, mulai UI, ITB, UGM, ITS, UNHAS, Universitas Terbuka dan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdikbud. Jaringan besar ini disebut UNINET. Jaringan yang dibuat dengan bantuan dari luar negeri ini menggunakan infratruktur jaringan telepon kabel konvensional, SKDP milik PT Indosat, serta SKDP via satelit (packsatnet). Ada 4 buah server yang dibuat dan ditempatkan di lokasi ITB, UI, UGM, dan ITS.
•    UI membuka program studi ilmu komputer pertama untuk jenjang S-1.
•    Adanya kegiatan Amatir Radio club (ARC) ITB yang membangun jaringan internet dengan menggunakan komputer Apple II dihubungkan dengan jaringan komunikasi memakai link radio amatir untuk mengoperasikan internet.
 
1988   :
•    Program studi ilmu komputer untuk jenjang S-2 dibuka di UI.
 
1988 s/d 1989   :
•    UI dipilih menjadi gateway internet pertama di Indonesia, sekaligus sebagai koordinator pendaftaran domain .id internet protokol berbasis UUC.
 
1990-an   :
•    Mulai dikembangkannya jaringan komputer dengan menggunakan teknologi packet radio pada band 70 cm dan 2 m secara luas.
 
1986 s/d 1993   :
•    PUSILKOM UI ditunjuk oleh Depdikbud sebagai salah satu Pusat Antar universitas (PAU) dalam bidang ilmu komputer.
 
1993   :
•    Fakultas Ilmu Komputer (FASILKOM) UI diresmikan oleh Mendikbud.
•    Indonesia secara resmi terhubung dengan internet mengguankan protocol TCP/IP dan domain .id mulai diakui keberadaanya di internet tepatnya pada tanggal 4 Maret 1993.
•    IPTEKNET menjadi situs pertama yang resmi terhubung dengan internet
 
1994  :
•    Munculnya Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia yaitu indonet (www.indo.net.id)
 
1995   :
•    PT Telkom melalui divisi riset dan teknologi memberikan sambungan leased line 14,4 Kbps sebagai bagian dari IPTEKNET.
•    Departemen Pekerjaan Umum tercatat sebagai instansi departemen pemerintah Indonesia yang pertama kali online (www.pu.go.id)
 
1996   :
•    ITB terhubung ke jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3). Bandwidth internet pun di tambah sampai 1,5 Mbps ke Jepang yang terus ditambah dengan sambungan ke TelkomNet dan IIX 2 Mbps.
•    Terbentuknya APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) yang memfasilitasi munculnya banyak ISP. Munculnya layanan internet dial up dengan akses 33,6 Kbps.
 
1997  :
•    Layanan internet dial up mengalami kenaikan dari 33,6 Kbps menjadi rata-rata 56 Kbps.
 
1998  :
•    Pemerintah daerah mulai masuk ke internet. Pemda pertama yang melakukan koneksi ke internet adalah Pemerintah Daerah Samarinda (www.samarinda.go.id).
 
1999  :
•    Dikeluarkannya UU tentang telekomunikasi no. 36/1999.
•    Inisiatif gerakan berbasis teknologi informasi mulai mencapai puncaknya.
•    Perusahaan dotcom dan media-media yang memiliki segmen pendidikan teknologi informasi bermunculan di Indonesia.
•    Kegiatan promosi, pameran, seminar, dan konferensi internasional teknologi informasi di selenggarakan secara beruntun
 
2002   :
•    Secara resmi pemerintah Indonesia meluncurkan portal nasional pada tanggal 20 Mei 2002 dengan alamat www.indonesia.go.id.

Perkembangan dunia teknologi informasi yang sedemikian pesatnya ini perlahan telah mengubah gaya hidup manusia. Sekarang manusia bahkan dapat dikatakan tidak dapat hidup tanpa bantuan teknologi yang memudahkan manusia dalam menjalani aktivitasnya. Manusia modern sebutan untuk manusia yang mengerti dan mengikuti perkembangan teknologi. Akan tetapi perkembangan tersebut tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga dampak negative. Oleh karena itu, kita haruslah pintar-pintar memilih dalam menggunakan teknologi.

Teknologi Telekomunikasi di Indonesia
Sejak Amerika Serikat meluncurkan ‘The National Infrastructure Information’-nya pada tahun 1991, banyak negara industri lain di dunia bergegas menyusul dengan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur komunikasinya. Dalam kurun waktu lima tahun setelah itu, negara-negara Eropa seperti Perancis, Denmark, Inggris, Jerman, dan lainnya merancang dan mempublikasikan kebijakan-kebijakan superhighways informasi mereka. Inggris menamai programnya dengan ‘The Information Society Initiative’ dan Jerman ‘The Info 2000’. Di Asia, Jepang menampilkan kebijakan serupa pada tahun 1994 (Yuliar, dkk, 2001: 162-163).
Tak lama kemudian, yakni tahun 1996, negara-negara di wilayah Asia Tenggara pun tidak mau ketinggalan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur komunikasi- informasi mereka, seperti Filipina dengan ‘Tiger’, Malaysia dengan ‘Multimedia Super Coridor’ dan Singapura dengan ‘Singapore-ONE’. Pada awal tahun 1997, Indonesia meluncurkan kebijakan infrastruktur superhighways informasi yang diberi nama ‘Nusantara 21’, yang selanjutnya dikuatkan dengan dikeluarkannya Keppres No. 30 tahun 1997 mengenai Pembentukan Tim Koordinasi Telematika Indonesia, yang bertugas mengkoordinasikan pengembangan pembangunan dan pemanfaatan telematika di Indonesia (Yuliar, dkk, 2001: 162-163)
Namun demikian, menurut Yuliar, dkk (2001: 172), kebijakan infrastruktur dalam proyek‘Nusantara 21’ masih dipengaruhi kepentingan pemerintah, seperti dicerminkan dari hubungannya dengan kebijakan pertahanan dan keamanan, persatuan dan kesatuan Indonesia, ketahanan nasional, dan Wawasan Nusantara. Begitu pula peran pemerintah masih sangat dominan melebihi pihak-pihak lain, misalnya swasta dan masyarakat, dengan adanya Tim Koordinasi Telematika Indonesia, berdasarkan Keputusan PresidenNo.30/1997, yang melibatkan 14 menterinya, yaitu 1 menteri koordinator, 8 menteri departemen, dan 5 menteri negara, namun tidak melibatkan pihak-pihak di luar pemerintahan. Dengan demikian ‘Nusantara 21’ mencerminkan warna sentralisasi yang masih sangat kuat dan nuansa demokratisasi kurang diperhatikan. Akibatnya visi‘Nusantara 21’ yang awalnya dikenalkan secara top down sebagai simbol yang mengemas kerangka pembangunan infrastruktur pemerintah Orde Baru tersebut lengser mengikuti lengsernya pemerintahan Orde Baru. Selain itu krisis ekonomi, sosial, dan politik pada tahun 1997 serta bangkitnya semangat otonomi daerah mengikis proyek‘Nusantara 21’ yang dinilai sangat kental bernuansa sentralistik.
Secara konseptual, ‘Nusantara 21’ adalah sebuah visi nasional yang memperjuangakan bsnagsa Indonesia untuk memasuki kancah persaingan ekonomi global di abad 21. Sebagai kebijakan, infrastruktur informasi ‘Nusantara 21’ tidak telepas dari visi Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, serta pertahanan dan keamanan, yang telah muncul sejak adanya konsep satelit telekomunikasi Palapa 16 Agustus 1976. Bahkan ‘Nusantara 21’ lebih terlihat sebagai pemutakhiran dari proyek Palapa, dengan tetap menggunakan pendekatan pada nilai-nilai pemersatuan seluruh Nusantara sebagai negara kepulauan. Dengan demikian, secara paradigmatis, tidak ada sesuatu yang relatif baru dari proyek ‘Nusantara 21’ bagi pembangunan infrastruktur komunikasi Indonesia dibanding proyek satelit palapa sebelumnya.
Dari sisi teknologi, sebelum satelit Palapa mengorbit, Indonesia hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat teresterial, yakni yang jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa menjangkau pulau-pulau, kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi Kabel Laut). Tetapi sistem SKKL itupun masih mahal dan sulit untuk dipergunakan. Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan telekomunikasi Indonesia dapat menjangkau seluruh nusantara, kecuali beberapa daerahblank spot. Satelit Palapa yang diluncurkan waktu itu tidak hanya dapat digunakan untuk telepon, namun juga dapat dimanfaatkan untuk pengiriman faksimili, telex, telegram, videotext, dan berbagai informasi dalam bentuk lain, termasuk di bidang penyiaran (broadcasting), serta sistem cetak jarak jauh bagi suratkabar. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang dimuali dari peluncuran Satelit Palapa berdampak positif  bagi penanaman investasi asing. Sebelumnya pada inverstor enggan melirik Indonesia karena buruknya infrastruktur telekomunikasi yang ada di tanah air.
Satelit-satelit Komunikasi Indonesia
No
Nama
Waktu Peluncuran
Jumlah Transponder
 Pesawat Luncur
Perkiraan Usia (Tahun)
1.
Palapa A-1
08-07-1976
12
Delta 2914
7
2.
Palapa A-2
10-03-1977
12
Delta 2914
7
3.
Palapa B-1
19-06-1983
24
Challenger
8
4.
Palapa B-2
06-02-1984
24
Challenger
8
5.
Palapa B-2P
20-03-1990
24
Delta 3920
8
6.
Palapa B-2R
20-03-1990
24
Delta 6925-8
8
7.
Palapa B-4
07-05-1992
24
Delta 7925
11
8.
Palapa C-1
01-02-1996
34
Atlas 2 AS
14
9.
Palapa C-2
15-05-1996
36
Ariane 144 L
14
10.
Palapa D-1
31-08-2009
40
Chinese long march 3B
10*
11.
Telkom-1
13-08-1999
36
Ariane
15
12.
Telkom-2
17-11-2005
24
Ariane 5
15
sumber: http://masdiisya.wordpress.com diolah dr berbagai sumber
Di berbagai belahan dunia, munculnya teknologi broadband memudahkan orang mengakses internet di mana saja dengan teknologi mobile. Bila teknologi generasi pertama/1G yaitu NMT (Nordic Mobile Telephony) dan AMPS (Advanced Mobile Phone System) yang muncul pada awal 1990-an sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis, serta hanya menampilkan suara, maka pada teknologi generasi kedua/2G, GSM  (Global System for Mobile) yang bergerak pada pertengahan dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu menjadi wahana tukar informasi dalam bentuk suara, tetapi juga data yang berupa teks dan gambar (SMS dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi kedua ini berkembang pesat di Indonesia, sehingga memasuki 2000-an, handphone menjadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari.
Sejak tahun 2006, masyarakat di Indonesia sudah bisa menikmati layanan audio-visual yang lebih canggih dengan teknologi generasi ketiga (3G). Ada juga pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler dengan sistem UMTS, WiFi, dan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access). Aplikasi teknologi terbaru berkaitan dengan kecepatan akses sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa jaringan operator seluler antara lain berupa jaringan cepat yang dikenal dengan High-Speed Downlik Packet Access(HSDPA) atau sering disebut dengan 3,5G; yaitu generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, tidak lama lagi, vendor maupun operator seluler siap dengan teknologi Next Generation Network (NGN) atau 4G. Pada babakan inilah apa yang disebut konvergensi media akan mencapai titik maksimal. Lewat segenggamhandset, orang di berbagai penjuru dunia bisa mengakses informasi secara cepat dan lengkap sesuai kebutuhan (Yusuf dan Supriyanto, Jurnal Komunikasi UII, Volume 1, No. 2, April 2007).
Perkembangan lebih lanjut dari teknologi 4G ini adalah revolusi WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) menjadi LTE (Long Term Evolution) dan revolusi EV-DO (Evolution for Data Only) menjadi UMB (Ultra Mobile Broadband). Pada awalnya LTE dan UMB dijadwalkan masih cukup lama untukmmulai diimplementasikan, mungkin akan lebih cepat dengan kemunculan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access) yang memiliki kemampuan seperti halnya 4G (Djamili, Kompas, 7 April 2008).
Bagi teknologi 3G, WiMAX mobile bisa dikatakan sebagai suatu ancaman. Dengan kemampuan layanan komunikasi data yang lebih cepat dari 3G yang ada saat ini,  WiMAX mobile menawarkan kinerja yang lebih baik penggunanya. Di lain sisi jika layanan panggilan suara dengan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol) diintegrasikan melalui WiMAX, diprediksi akan memicu persaingan ketat antara 3G dan WiMAX. Dalam ketersediaan teknologi, saat ini teknologi LTE maupun UMB –sebagai revolusi secara alamiah teknologi 3G—memiliki keterlambatan ketersediaan dibanding teknologi WiMAX (Djamili, Kompas, 7 April 2008).
Menurut Djamili (Kompas, 7 April 2008) Kemunculan WiMAX di Indonesia semakin dekat dengan ditandatanganinya peraturan mengenai aspek persyaratan teknis untuk sistem BWA di pita frekuensi 2,3 GHz oleh Dirjen Postel pada 26 Februari 2008. Peraturan ini tentunya akan menjadi acuan dalam dokumen lelang BWA yang dijadwalkan pada tahun 2008 ini. Meksipun tidak disebutkan secara spesifik bahwa pita frekuensi ini merupakan alokasi untuk teknologi WiMAX, namun dalam siaran pers disebutkan bahwa Dirjen Postel bersama-sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi membuat program penelitian perngkat radio WiMAX di frekuensi 2,3 GHz sehingga kemungkinan besar teknologi WiMAX akan diimplementasikan.
Lebih lanjut, Djamili (Kompas, 7 April 2008) menyebutkan, WiMAX memiliki kemampuan memberikan layanan koneksi ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) seperti layanan Telkom Speedy tetapi melalui jaringan nirkabel, sehingga berpotensi menjadi alternatif layanan bagi masyarakat dan bagi daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan telepon. Selain itu, WiMAX memiliki kemampuan seperti sistem seluler (mobility) sehingga dapat memberi layanan seperti 3G saat ini.

Sumber:
4.    www.scribd.com


Akhirnya XL kelar Akuisisi Axis


Pertengahan Maret 2014 menjadi peristiwa bersejarah bagi PT XL Axiata Tbk. Perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia itu menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi PT Axis Telekom Indonesia (Axis). Penyelesaian proses akuisisi senilai US$ 865 juta itu dicapai setelah XL mendapat seluruh persetujuan yang dipersyaratkan dalam conditional sales purchase agreement (CSPA) yang dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Komisi Pengawas Persaingan Usaha serta RUPSLB.
Untuk mengetahui lebih jauh langkah akuisisi yang merupakan bagian dari strategi induknya, Axiata Group, untuk memperkuat bisnisnya di pasar telko, SWA mewawancarai Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur XL. Berikut ini petikannya:

Akhirnya selesai juga proses akuisisi Axis oleh XL …
Ya, proses akuisisi ini berlangsung hampir dua tahun. Akhirnya, semua persyaratan untuk akuisisi sudah cukup. Tidak ada yang keberatan dengan akuisisi ini. Seluruh persetujuan yang dipersyaratkan sebelumnya dalam Perjanjian Jual-Beli Bersyarat telah kami kantongi.
Dari mana dana untuk mengakuisisi?
Sebesar US$ 500 juta dari Axiata. Sisanya, pinjam dari Bank DBS sebesar US$ 200 juta, US$ 100 juta dari Bank UOB, serta US$ 65 juta dari Bank of Tokyo-Mitsubishi. Jadi, 60% dana akuisisi datangnya dari pemegang saham XL, bukan dari utang.
Setelah diakuisisi, apakah nama Axis masih tetap dipakai?
Brand Axis akan tetap dipertahankan untuk beberapa waktu demi kenyamanan pelanggan. Apa yang dimiliki pelanggan Axis masih tetap bisa dinikmati pelanggan yang sudah ada, untuk kenyamanan pelanggan. Kami sedang melakukan kajian berapa lama kami akan pertahankan Axis.Brand itu mahal, XL dan Axis sama-sama mahal. Saat ini masih dilakukan kajian lebih detail lagi. 

Apakah Axis akan dikhususkan untuk segmen anak muda?
Segmen pelanggan XL kuat pada anak muda, first jobbers, profesional, UKM, dan sektor nonformal. Sementara itu, Axis belum kuat di segmen tersebut. Axis kuat di segmen anak muda dan pengguna data. Nah, ini artinya matching. Dengan cara ini, XL yang dulunya sudah kuat ditambah Axis akan makin kuat lagi pasarnya di anak muda. Lalu, apakah Axis hanya akan difokuskan untuk garap pasar anak muda? Kita lihat nanti saja.

Bagaimana dengan spektrum frekuensi yang dimiliki, akan diapakan?
Kan Axis punya 25 Mhz, terdiri dari 10 Mhz 3G (2.100) dan 15 Mhz 2G (1.800). Namun, sebagian dikembalikan ke pemerintah, yaitu yang 10 MHz-2.100. Kapan, bagaimana cara dan pengaturannya, kami mengikuti aturan pemerintah. Kami bekerja sama dengan Kemenkominfo untuk teknis pelaksanaannya. Komitmen kami selalu mengikuti peraturan pemerintah.
Apa cara XL untuk mengoptimalkan frekuensi?
Dulu, empat tahun lalu, 1.800 gunanya hanya untuk 2G. Waktu itu, diramalkan 2G akan turun, 3G akan memimpin. Jadi, kami buat 3G. Ternyata, dua tahun terakhir kita bicara bahwa 1.800 tidak cuma untuk masa lalu, tetapi juga masa depan, yakni LTE. Nah, yang 15 Mhz di 1.800 tadi, sekarang untuk 2G. Targetnya tahun depan kami sudah gunakan untuk LTE. Seandainya 1.800 hanya bisa untuk 2G, tentu saya tidak akan support pembelian Axis ini. Jadi, tidak akan sia-sia frekuensi dari Axis itu.

Apa benefit bagi pelanggan dengan merger kedua merek itu?
Untuk Axis, yang tadinya coverage-nya tidak terlalu bagus, pelan-pelan akan kami beri roamingnasional. Jadi, Axis akan punya jaringan nasional. Sementara untuk pelanggan XL akan ada tambahan kapasitas. Saat ini kapasitas frekuensi Axis berlebihan buat mereka — karena pelanggannya tidak banyak — maka kami berikan kapasitas ini buat pelanggan XL. Tentu, ini butuh waktu, tidak bisa disulap langsung jadi. Perkiraan kita, 3-6 bulan semua itu akan meningkat.

Bagaimana dengan layanan pelanggan?
Pelanggan Axis akan dilayani oleh customer service XL. Pada saatnya nanti, call center dan XL Center akan menjadi satu. Jadi, pelanggan Axis, kalau ada masalah, silakan datang ke XL Center. Kami akan menjaga tarif XL dan Axis akan tetap kompetitif dan promasyarakat. Saat ini dealer XL yang mendistribusikan produk Axis baru 88. Ke depannya akan ditingkatkan menjadi 127 dealer.

Lalu, bagaimana dengan masa depan karyawan Axis?
XL terbuka menerima karyawan Axis sesuai dengan kebutuhan organisasi dengan persyaratan yang berlaku umum di dunia profesional. Ketika digabung, kami lihat nanti kebutuhan-kebutuhan mana yang perlu diisi akan kami ambil dari Axis dulu. Tentu saja, sesuai dengan tes profesional biasa. Karyawan Axis tidak otomatis masuk.
Sekarang posisi XL nomor dua, apakah akuisisi ini dalam rangka mengejar ke nomor satu?
Pendapatan XL kira-kira 18% dari nilai pasar, sementara Axis hanya 2%-3% dari nilai pasar. Gabungan keduanya hanya 21%. Sementara pemain yang nomor satu itu pasarnya sampai 46%. Dulu kami dari nomor 3 menjadi nomor 2, itu juga butuh waktu empat tahun. Sementara sekarang pasarnya sudah jenuh. Artinya, kami tidak perlu mengejar orang yang terlalu jauh. Lebih baik kami berikan yang terbaik bagi pelanggan.(*)
Sudarmadi dan Sigit A. Nugroho

Akuisisi sebagai Solusi
Pakar bisnis telco yang juga Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, melihat akuisisi dan merger merupakan hal biasa dalam bisnis telekomunikasi, apalagi saat ini dalam posisi tidak sehat, semua operator dalam keadaan merugi dan persaingan makin sengit. “Tampaknya Axis memang sudah menyerah dan pihak Arab Saudi melihat bahwa regulasi juga tidak berpihak kepada mereka sebagai pemain kecil di industri telekomunikasi Indonesia. Sementara XL dari sisi jaringan juga dalam posisi yang perlu perbaikan karena alokasi frekuensi, terutama untuk data, tidak memadai dibanding jumlah penggunanya. Jadi, akuisisi ini merupakan solusi,” Heru menjelaskan.
Heru melihat pula, sekalipun peluangnya besar, perlu waktu untuk menyinergikan jaringan dan  SDM. Apalagi ada PR terkait perizinan yang masih perlu dituntaskan dan pemerintah pun akan mengambil 10 MHz dari gabungan XL-Axis. Dengan akuisisi frekuensi 1.800 MHz dari Axis, XL akan cukup frekuensi untuk menjalankan LTE. Di Frekuensi ini Telkomsel punya 22,5 MHz, Indosat 20 Mhz. XL yang tadinya hanya 7,5 MHz dengan tambahan dari Axis 15 MHz, sekarang menjadi 22,5 MHz. “Artinya, XL punya frekuensi cukup untuk menggelar jaringan 4G. Jika tidak akuisisi, XL tidak bisa gelar 4G. Minta Telkomsel atau Indosat? Nggak akan dikasih,” ujar Heru. Tantangannya, XL harus memperbarui perizinan, mengembalikan frekuensi, mengharmonisasi jaringan dari XL-Axis, serta mengombinasikan SDM yang ada. Di sisi lain, mereka harus tetap jualan dan berinovasi.



Pengertian ERP, Macam-macam ERP dan Mengaplikasikan ERP

  ERP (Enterprise Resource Planning) Merupakan sebuah software yang berfungsi untuk mengelola berbagai aktivitas manajemen proses bisnis d...