Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and
Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup
seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK
mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi.
Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan
teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan
alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke
lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah
dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi
mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan
pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah
TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat
keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad
ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang
teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai
perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.
Perkembangan Teknologi Informasi di
Indonesia sampai dengan saat ini berkembang dengan pesat seiring dengan
penemuan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi dan
Komunikasi sehingga mampu menciptakan alat-alat yang mendukung perkembangan
Teknologi Informasi, mulai dari sistem komunikasi sampai dengan alat komunikasi
yang searah maupun dua arah (interaktif). Sebagai negara yang sedang
berkembang, Indonesia selalu mengadaptasi berbagai teknologi informasi hingga
akhirnya tiba di suatu masa di mana pengunaan internet mulai menjadi ”makanan”
sehari-hari yang dikenal dengan teknologi berbasis internet (internet based
technology).
Jaman dahulu sebelum berkembangnya
teknologi, orang-orang Indonesia harus menempuh jarak yang jauh untuk
mengantarkan sebuah surat atau pesan kepada orang lain, tetapi lain dengan
jaman sekarang dan perkembangan itu sendiri di Indonesia dimulai dengan Satelit
Palapa (9Juli 1976) yang memudahkan arus komunikasi dan teknologi, yakni
telepon, fax, dll. Setelah itu perkembangan dilanjutkan dengan berkembanganya
jaringan sellular, yaitu GSM pertama di Indonesia, yakni sebuah teknologi
komunikasi bergerak yang tergolong dalam generasi kedua (2G). Diharapkan
Indonesia harus terus menerus berinovasi dan menghasilkan buah karya atau
produk dari IPTEK, sehingga penanaman IPTEK terhadap anak-anak sebagai generasi
penerus harus diupayakan sedini mungkin, sehingga pada masa yang akan datang
Indonesia pasti akan dapat menyaingi negara-negara lainnya dalam hal teknologi.
Teknologi yang mengalami pertumbuhan
pesat dalam beberapa dekade ini adalah handphone (telepon selular). Salah satu
perkembangan pertama handphone adalah SMS. SMS pertama kali dikirim oleh Neil
Papworth dan diterima Richard Jarvis pada Desember 1992 dari komputer ke
telepon. Isi pesannya adalah “Merry Christmas“. SMS ini menggunakan ruang
sinyal kendali arus di GSM (global system for mobile). Awalnya 128 karakter (16
bit), tapi diconvert ke basis 7 sehingga bisa 140 karakter. Jadi SMS awalnya
hanya untuk memanfaatkan ruang kosong pengaturan sinyal di sistem GSM, tapi
sekarang SMS bisa dibilang menjadi kebutuhan dasar para pengguna telepon
seluler.
Fitur SMS dimulai tahun 1993, dan
tidak dikembangkan secara serius. Cuma Nokia yang serius dengan membuat handset
berstandar E-161 atau biasa kita sebut dengan keypad tipe Alfanumerik. Inilah
awal mula Nokia booming.
Akan tetapi, saat ini penggunaan
keypad alfanumerik juga sudah mulai ditinggalkan, orang sudah banyak beralih ke
handphone yang menggunakan keypad qwerty. Tren ini dipelopori oleh BlackBerry.
Ada hal yang menarik mengenai pemberian nama/merk Blackberry. Ternyata
hal ini terkait atas paten mereka atas Keyboard. Perusahaan Kanada ini pegang
paten keyboard berkontur. Dengan kontur ini, orang bisa mengetik dengan mantap
walaupun keyboardnya kecil. Karena keyboard kecil ini berjejal-jejal dan
berdekatan dengan tuts warna hitam menyerupai buah berry hitam, maka disebutlah
dengan Blackberry. Keyboard mini inilah yang membuat pangsa pasar Blackberry
naik, karena bisa digunakan dengan aman dan cepat.
Selain handphone, teknologi yang
juga mengalami perkembangan dengan amat sangat cepat adalah Internet. Keberadaan
internet saat ini sudah semakin mudah kita temui dan dengan harga yang
terjangkau. Segala aspek kehidupan bahkan dapat dikatakan bisa diakses melalui
internet kapan saja dan dari mana saja. Internet menyederhanakan ruang dan
waktu di antara manusia di berbagai belahan dunia.
Ledakan Internet di Indonesia
sendiri terjadi sekitar tahun 1994. Sebelumnya Internet sudah masuk ke
Indonesia melalui jaringan akademis dan pusat riset, sehingga hanya golongan
akademis dan peneliti yang dapat memanfaatkannya. Itupun masih terbatas pada
fasilitas e-mail saja. Nicholas Negroponte sendiri mengakui, “…bahwa
pertumbuhan host Internet tercepat pada kwartal ketiga 1994 terjadi di
Argentina, Iran, Peru, Mesir, Filipina, Federasi Rusia, Slovenia dan
Indonesia.”
Menurut catatan Fakultas Ilmu
Komputer Universitas Indonesia (UI), teknologi komputer baru diperkenalkan di
Indonesia dalam kurun antara tahun waktu 1970-1972-an. Untuk lebih jelas
sejarah perkembangan teknologi informasi di Indonesia setelah tahun 1972, bisa
terlihat dalam daftar berikut ini.
1972 s/d 1975 :
1972 s/d 1975 :
• PUSILKOM UI
mulai melakukan kegiatan operasional komputasi di lingkungan kampus UI.
• UI mengirimkan 2 (dua) orang staf PUSILKOM ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang ilmu komputer.
• UI mengirimkan 2 (dua) orang staf PUSILKOM ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang ilmu komputer.
1975 s/d 1986 :
• UI kembali
mengirimkan 4 (empat) orang staf PUSILKOM ke Amerika Serikat untuk melanjutkan
studi tentang ilmu komputer.
1984 :
• Beberapa
jaringan teknologi informasi di Indonesia mulai terhubung ke internet melalui
jaringan UI-net. Jaringan internet Indonesia pada saat itu berjalan di atas
protokol UUC, sedangkan umumnya menggunakan TCP/IP. Domain .id sudah muncul dan
diakui pada tahun ini.
1986-an :
• Terbentuknya
jaringan yang menghubungkan kampuskampus besar Indonesia, mulai UI, ITB, UGM,
ITS, UNHAS, Universitas Terbuka dan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdikbud.
Jaringan besar ini disebut UNINET. Jaringan yang dibuat dengan bantuan dari
luar negeri ini menggunakan infratruktur jaringan telepon kabel konvensional,
SKDP milik PT Indosat, serta SKDP via satelit (packsatnet). Ada 4 buah server
yang dibuat dan ditempatkan di lokasi ITB, UI, UGM, dan ITS.
• UI membuka program studi ilmu komputer pertama untuk jenjang S-1.
• Adanya kegiatan Amatir Radio club (ARC) ITB yang membangun jaringan internet dengan menggunakan komputer Apple II dihubungkan dengan jaringan komunikasi memakai link radio amatir untuk mengoperasikan internet.
• UI membuka program studi ilmu komputer pertama untuk jenjang S-1.
• Adanya kegiatan Amatir Radio club (ARC) ITB yang membangun jaringan internet dengan menggunakan komputer Apple II dihubungkan dengan jaringan komunikasi memakai link radio amatir untuk mengoperasikan internet.
1988 :
• Program studi
ilmu komputer untuk jenjang S-2 dibuka di UI.
1988 s/d 1989 :
• UI dipilih
menjadi gateway internet pertama di Indonesia, sekaligus sebagai koordinator
pendaftaran domain .id internet protokol berbasis UUC.
1990-an :
• Mulai
dikembangkannya jaringan komputer dengan menggunakan teknologi packet radio
pada band 70 cm dan 2 m secara luas.
1986 s/d 1993 :
• PUSILKOM UI
ditunjuk oleh Depdikbud sebagai salah satu Pusat Antar universitas (PAU) dalam
bidang ilmu komputer.
1993 :
• Fakultas Ilmu
Komputer (FASILKOM) UI diresmikan oleh Mendikbud.
• Indonesia secara resmi terhubung dengan internet mengguankan protocol TCP/IP dan domain .id mulai diakui keberadaanya di internet tepatnya pada tanggal 4 Maret 1993.
• IPTEKNET menjadi situs pertama yang resmi terhubung dengan internet
• Indonesia secara resmi terhubung dengan internet mengguankan protocol TCP/IP dan domain .id mulai diakui keberadaanya di internet tepatnya pada tanggal 4 Maret 1993.
• IPTEKNET menjadi situs pertama yang resmi terhubung dengan internet
1994 :
• Munculnya
Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia yaitu indonet
(www.indo.net.id)
1995 :
• PT Telkom
melalui divisi riset dan teknologi memberikan sambungan leased line 14,4 Kbps
sebagai bagian dari IPTEKNET.
• Departemen Pekerjaan Umum tercatat sebagai instansi departemen pemerintah Indonesia yang pertama kali online (www.pu.go.id)
• Departemen Pekerjaan Umum tercatat sebagai instansi departemen pemerintah Indonesia yang pertama kali online (www.pu.go.id)
1996 :
• ITB terhubung ke
jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3). Bandwidth
internet pun di tambah sampai 1,5 Mbps ke Jepang yang terus ditambah dengan
sambungan ke TelkomNet dan IIX 2 Mbps.
• Terbentuknya APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) yang memfasilitasi munculnya banyak ISP. Munculnya layanan internet dial up dengan akses 33,6 Kbps.
• Terbentuknya APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) yang memfasilitasi munculnya banyak ISP. Munculnya layanan internet dial up dengan akses 33,6 Kbps.
1997 :
• Layanan internet
dial up mengalami kenaikan dari 33,6 Kbps menjadi rata-rata 56 Kbps.
1998 :
• Pemerintah
daerah mulai masuk ke internet. Pemda pertama yang melakukan koneksi ke
internet adalah Pemerintah Daerah Samarinda (www.samarinda.go.id).
1999 :
• Dikeluarkannya
UU tentang telekomunikasi no. 36/1999.
• Inisiatif gerakan berbasis teknologi informasi mulai mencapai puncaknya.
• Perusahaan dotcom dan media-media yang memiliki segmen pendidikan teknologi informasi bermunculan di Indonesia.
• Kegiatan promosi, pameran, seminar, dan konferensi internasional teknologi informasi di selenggarakan secara beruntun
• Inisiatif gerakan berbasis teknologi informasi mulai mencapai puncaknya.
• Perusahaan dotcom dan media-media yang memiliki segmen pendidikan teknologi informasi bermunculan di Indonesia.
• Kegiatan promosi, pameran, seminar, dan konferensi internasional teknologi informasi di selenggarakan secara beruntun
2002 :
• Secara resmi
pemerintah Indonesia meluncurkan portal nasional pada tanggal 20 Mei 2002
dengan alamat www.indonesia.go.id.
Perkembangan dunia teknologi informasi yang sedemikian pesatnya ini perlahan telah mengubah gaya hidup manusia. Sekarang manusia bahkan dapat dikatakan tidak dapat hidup tanpa bantuan teknologi yang memudahkan manusia dalam menjalani aktivitasnya. Manusia modern sebutan untuk manusia yang mengerti dan mengikuti perkembangan teknologi. Akan tetapi perkembangan tersebut tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga dampak negative. Oleh karena itu, kita haruslah pintar-pintar memilih dalam menggunakan teknologi.
Perkembangan dunia teknologi informasi yang sedemikian pesatnya ini perlahan telah mengubah gaya hidup manusia. Sekarang manusia bahkan dapat dikatakan tidak dapat hidup tanpa bantuan teknologi yang memudahkan manusia dalam menjalani aktivitasnya. Manusia modern sebutan untuk manusia yang mengerti dan mengikuti perkembangan teknologi. Akan tetapi perkembangan tersebut tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga dampak negative. Oleh karena itu, kita haruslah pintar-pintar memilih dalam menggunakan teknologi.
Teknologi Telekomunikasi di Indonesia
Sejak Amerika Serikat meluncurkan ‘The National Infrastructure
Information’-nya pada tahun 1991, banyak negara industri lain di
dunia bergegas menyusul dengan meluncurkan kebijakan-kebijakan infrastruktur
komunikasinya. Dalam kurun waktu lima tahun setelah itu, negara-negara Eropa
seperti Perancis, Denmark, Inggris, Jerman, dan lainnya merancang dan
mempublikasikan kebijakan-kebijakan superhighways informasi
mereka. Inggris menamai programnya dengan ‘The Information Society Initiative’ dan Jerman ‘The Info 2000’. Di
Asia, Jepang menampilkan kebijakan serupa pada tahun 1994 (Yuliar, dkk, 2001:
162-163).
Tak lama kemudian, yakni tahun 1996, negara-negara di wilayah
Asia Tenggara pun tidak mau ketinggalan meluncurkan kebijakan-kebijakan
infrastruktur komunikasi- informasi mereka, seperti Filipina dengan ‘Tiger’, Malaysia
dengan ‘Multimedia Super Coridor’ dan Singapura dengan ‘Singapore-ONE’. Pada awal tahun 1997, Indonesia meluncurkan
kebijakan infrastruktur superhighways informasi yang
diberi nama ‘Nusantara 21’, yang selanjutnya
dikuatkan dengan dikeluarkannya Keppres No. 30 tahun 1997 mengenai Pembentukan
Tim Koordinasi Telematika Indonesia, yang bertugas mengkoordinasikan
pengembangan pembangunan dan pemanfaatan telematika di Indonesia (Yuliar, dkk,
2001: 162-163)
Namun demikian, menurut Yuliar, dkk (2001: 172), kebijakan
infrastruktur dalam proyek‘Nusantara 21’ masih
dipengaruhi kepentingan pemerintah, seperti dicerminkan dari hubungannya dengan
kebijakan pertahanan dan keamanan, persatuan dan kesatuan Indonesia, ketahanan
nasional, dan Wawasan Nusantara. Begitu pula peran pemerintah masih sangat
dominan melebihi
pihak-pihak lain, misalnya swasta dan masyarakat, dengan adanya Tim Koordinasi
Telematika Indonesia, berdasarkan Keputusan PresidenNo.30/1997, yang melibatkan 14
menterinya, yaitu 1 menteri koordinator, 8 menteri departemen, dan 5 menteri
negara, namun tidak melibatkan pihak-pihak di luar pemerintahan. Dengan
demikian ‘Nusantara 21’ mencerminkan warna
sentralisasi yang masih sangat kuat dan nuansa demokratisasi kurang
diperhatikan. Akibatnya visi‘Nusantara 21’ yang
awalnya dikenalkan secara top down sebagai
simbol yang mengemas kerangka pembangunan infrastruktur pemerintah Orde Baru
tersebut lengser mengikuti lengsernya pemerintahan Orde Baru. Selain itu krisis
ekonomi, sosial, dan politik pada tahun 1997 serta bangkitnya semangat otonomi
daerah mengikis proyek‘Nusantara 21’ yang
dinilai sangat
kental bernuansa sentralistik.
Secara konseptual, ‘Nusantara 21’ adalah
sebuah visi nasional yang memperjuangakan bsnagsa Indonesia untuk memasuki
kancah persaingan ekonomi global di abad 21. Sebagai kebijakan, infrastruktur
informasi ‘Nusantara 21’ tidak telepas dari
visi Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional, baik dari segi ekonomi, sosial,
politik, serta pertahanan dan keamanan, yang telah muncul sejak adanya konsep
satelit telekomunikasi Palapa 16 Agustus 1976. Bahkan ‘Nusantara 21’ lebih
terlihat sebagai pemutakhiran dari proyek Palapa, dengan tetap menggunakan
pendekatan pada nilai-nilai pemersatuan seluruh Nusantara sebagai negara
kepulauan. Dengan demikian, secara paradigmatis, tidak ada sesuatu yang relatif
baru dari proyek ‘Nusantara 21’ bagi pembangunan
infrastruktur komunikasi Indonesia dibanding proyek satelit palapa sebelumnya.
Dari sisi teknologi, sebelum satelit Palapa mengorbit, Indonesia
hanya mengenal telekomunikasi yang bersifat teresterial, yakni yang
jangkauannya masih dibatasi oleh lautan. Telekomunikasi seperti ini tidak bisa
menjangkau pulau-pulau, kecuali melalui penggunaan SKKL (Saluran Komunikasi
Kabel Laut). Tetapi sistem SKKL itupun masih mahal dan sulit untuk
dipergunakan. Setelah satelit Palapa mengorbit, jangkauan telekomunikasi
Indonesia dapat menjangkau seluruh nusantara, kecuali beberapa daerahblank spot. Satelit Palapa yang diluncurkan waktu itu tidak
hanya dapat digunakan untuk telepon, namun juga dapat dimanfaatkan untuk
pengiriman faksimili, telex, telegram, videotext, dan berbagai informasi dalam
bentuk lain, termasuk di bidang penyiaran (broadcasting), serta
sistem cetak jarak jauh bagi suratkabar. Dengan demikian, pembangunan
infrastruktur telekomunikasi yang dimuali dari peluncuran Satelit Palapa
berdampak positif bagi penanaman investasi asing. Sebelumnya pada
inverstor enggan melirik Indonesia karena buruknya infrastruktur telekomunikasi
yang ada di tanah air.
Satelit-satelit Komunikasi Indonesia
|
No
|
Nama
|
Waktu
Peluncuran
|
Jumlah
Transponder
|
Pesawat Luncur
|
Perkiraan
Usia (Tahun)
|
|
1.
|
Palapa A-1
|
08-07-1976
|
12
|
Delta 2914
|
7
|
|
2.
|
Palapa A-2
|
10-03-1977
|
12
|
Delta 2914
|
7
|
|
3.
|
Palapa B-1
|
19-06-1983
|
24
|
Challenger
|
8
|
|
4.
|
Palapa B-2
|
06-02-1984
|
24
|
Challenger
|
8
|
|
5.
|
Palapa B-2P
|
20-03-1990
|
24
|
Delta 3920
|
8
|
|
6.
|
Palapa B-2R
|
20-03-1990
|
24
|
Delta 6925-8
|
8
|
|
7.
|
Palapa B-4
|
07-05-1992
|
24
|
Delta 7925
|
11
|
|
8.
|
Palapa C-1
|
01-02-1996
|
34
|
Atlas 2 AS
|
14
|
|
9.
|
Palapa C-2
|
15-05-1996
|
36
|
Ariane 144 L
|
14
|
|
10.
|
Palapa D-1
|
31-08-2009
|
40
|
Chinese long march 3B
|
10*
|
|
11.
|
Telkom-1
|
13-08-1999
|
36
|
Ariane
|
15
|
|
12.
|
Telkom-2
|
17-11-2005
|
24
|
Ariane 5
|
15
|
Di berbagai belahan dunia, munculnya teknologi broadband memudahkan
orang mengakses internet di mana saja dengan teknologi mobile. Bila teknologi generasi pertama/1G
yaitu NMT (Nordic Mobile Telephony) dan AMPS (Advanced Mobile Phone System) yang muncul pada awal 1990-an
sekadar melampaui keterbatasan fungsi telepon yang statis menjadi dinamis,
serta hanya menampilkan suara, maka pada teknologi generasi kedua/2G, GSM
(Global System for Mobile) yang bergerak pada pertengahan
dekade 1990-an, teknologi seluler tidak hanya mampu menjadi wahana tukar
informasi dalam bentuk suara, tetapi juga data yang berupa teks dan gambar (SMS
dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi
kedua ini berkembang pesat di Indonesia, sehingga memasuki 2000-an, handphone
menjadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari.
Sejak tahun 2006, masyarakat di Indonesia sudah bisa menikmati
layanan audio-visual yang lebih canggih dengan teknologi generasi ketiga (3G).
Ada juga pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler dengan sistem UMTS, WiFi,
dan WiMAX (Worlwide interoperability for Microwave Access). Aplikasi
teknologi terbaru berkaitan dengan kecepatan akses sebagaimana ditunjukkan oleh
beberapa jaringan operator seluler antara lain berupa jaringan cepat yang
dikenal dengan High-Speed Downlik Packet Access(HSDPA) atau sering disebut
dengan 3,5G; yaitu generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, tidak
lama lagi, vendor maupun operator seluler siap dengan teknologi Next Generation Network (NGN) atau 4G. Pada babakan inilah apa
yang disebut konvergensi media akan mencapai titik maksimal. Lewat segenggamhandset, orang di berbagai penjuru dunia bisa mengakses
informasi secara cepat dan lengkap sesuai kebutuhan (Yusuf dan Supriyanto, Jurnal Komunikasi UII, Volume 1, No. 2, April 2007).
Perkembangan lebih lanjut dari teknologi 4G ini adalah revolusi
WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) menjadi LTE (Long Term Evolution) dan revolusi EV-DO (Evolution for Data Only) menjadi UMB (Ultra Mobile Broadband). Pada awalnya LTE dan UMB
dijadwalkan masih cukup lama untukmmulai diimplementasikan, mungkin akan lebih
cepat dengan kemunculan WiMAX (Worlwide interoperability for
Microwave Access) yang memiliki kemampuan seperti halnya 4G
(Djamili, Kompas, 7
April 2008).
Bagi teknologi 3G, WiMAX mobile bisa dikatakan sebagai suatu
ancaman. Dengan kemampuan layanan komunikasi data yang lebih cepat dari 3G yang
ada saat ini, WiMAX mobile menawarkan kinerja yang lebih baik
penggunanya. Di lain sisi jika layanan panggilan suara dengan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol) diintegrasikan melalui WiMAX,
diprediksi akan memicu persaingan ketat antara 3G dan WiMAX. Dalam ketersediaan
teknologi, saat ini teknologi LTE maupun UMB –sebagai revolusi secara alamiah
teknologi 3G—memiliki keterlambatan ketersediaan dibanding teknologi WiMAX (Djamili, Kompas, 7 April 2008).
Menurut Djamili (Kompas, 7 April 2008) Kemunculan WiMAX di
Indonesia semakin dekat dengan ditandatanganinya peraturan mengenai aspek
persyaratan teknis untuk sistem BWA di pita frekuensi 2,3 GHz oleh Dirjen
Postel pada 26 Februari 2008. Peraturan ini tentunya akan menjadi acuan dalam
dokumen lelang BWA yang dijadwalkan pada tahun 2008 ini. Meksipun tidak
disebutkan secara spesifik bahwa pita frekuensi ini merupakan alokasi untuk
teknologi WiMAX, namun dalam siaran pers disebutkan bahwa Dirjen Postel
bersama-sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi membuat program
penelitian perngkat radio WiMAX di frekuensi 2,3 GHz sehingga kemungkinan besar
teknologi WiMAX akan diimplementasikan.
Lebih lanjut, Djamili (Kompas, 7 April 2008) menyebutkan, WiMAX
memiliki kemampuan memberikan layanan koneksi ADSL (Asymmetric Digital
Subscriber Line) seperti layanan Telkom Speedy tetapi melalui
jaringan nirkabel, sehingga berpotensi menjadi alternatif layanan bagi
masyarakat dan bagi daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan
telepon. Selain itu, WiMAX memiliki kemampuan seperti sistem seluler (mobility) sehingga dapat memberi layanan seperti 3G saat
ini.
Sumber: